Pemaksaan Pendapat dalam Talkshow

Mengapa orang memaksa? Bagaimana pemaksaan itu dilakukan? Siapa yang melakukan pemaksaan? Apa fungsinya? Sampai di mana batasan pemaksaan?

Jika selama ini pemaksaan –dalam bentuk apapun- berasosiasi negatif, untuk konteks percakapan dalam sebuah diskusi atau dalam sebuah talk show, pemaksaan ternyata juga bisa bermakna positif. Pemaksaan bisa dibuat dan dirancang sedemikian rupa agar peserta diskusi atau talk show tadi menjadi lebih aktif dan kooperatif sehingga percakapan dalam diskusi itu bisa tetap berlangsung.

Jika seorang pelaku percakapan berbicara bersamaan di saat rekan atau lawan bicaranya sedang berbicara; jika dia memotong ujaran rekan atau lawan bicaranya; jika dia memberikan komentar yang merendahkan rekan atau lawan bicaranya; jika dia mempertegas dan mempertajam kembali ujaran, tindakan, informasi yang sudah diberikan oleh rekan atau lawan bicaranya; jika dia mengambil alih tindakan yang seharusnya menjadi bagian rekan atau lawan bicaranya; jika dia memprovokasi yang lawan bicaranya dengan melontarkan dugaan atau pendapat yang terlalu jauh atau yang tidak berhubungan dengan tema yang sedang dibicarakan; jika dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak; jika dia mendiskreditkan dan merendahkan rekan atau lawan bicara dengan cara mempertanyakan kompetensi dan kemampuan rekan atau lawan bicaranya itu. Jika dia melakukan salah satu, beberapa atau semua dari hal-hal di atas, bisa dikatakan dia sedang melakukan pemaksaan pendapat.[1]

Namun, orang tetap tidak bisa –dan sebaiknya memang tidak- menggeneralisasikan ciri-ciri di atas begitu saja. Penilaian, apakah sesuatu hal merupakan pemaksaan atau bukan, itu sangatlah relatif. Kapan suatu ujaran atau tindakan disebut pemaksaan, tidak memiliki batas yang jelas karena percakapan, diskusi, talk show dan semacamnya merupakan interaksi yang melibatkan lebih dari satu co-participant. Akhirnya batasan tersebut akan menjadi sangat subjektif, karena analisa tidak bisa difokuskan kepada salah satu co-participant saja. Bagaimana seorang pelaku percakapan bisa dikatakan memaksa, jika pelaku percakapan lainnya tidak merasa dipaksa?

Kembali ke percakapan dalam sebuah diskusi atau talk show, pemaksaan pun bisa bermakna positif. Jika seorang pemandu diskusi atau talk show menguasai teknik-teknik pemaksaan dengan baik, dia akan berhasil memandu diskusi atau talk show tersebut dan bisa mengemasnya menjadi sebuah acara yang menarik. Hal ini mungkin terjadi, karena pemaksaan dan provokasi yang dilakukannya dapat memancing pelaku percakapan agar bicara dan –mungkin saja- mengeluarkan pendapat atau pernyataan yang provokatif pula serta dapat mempertajam konflik sehingga percakapan dalam diskusi atau talk show itu akan bertambah hangat dan panas. Memanas-manasi atau mengompori mungkin istilah yang juga cukup tepat. Penonton, yang nota bene memang menyukai hal-hal yang berbau konflik, provokasi dan perdebatan, sangat mungkin ikut terpancing –mungkin pula ikut berkomentar- dan terlibat ke dalam percakapan yang hangat atau bahkan panas tersebut.

Tentu saja hal ini akan bersentuhan dengan banyak hal. Positif atau negatif itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Diskusi dan talk show yang menarik, dalam arti provokatif, panas, debatable, kontroversial, akan menarik banyak orang untuk menyaksikannya. Banyak penonton berarti banyak iklan pula yang dipasang. Banyak iklan berarti pemasukan tinggi dan rating acara pun meningkat. Uang, tetap menjadi tujuan utama.

Pembawa acara yang provokatif, tahu bagaimana cara memaksa dan memancing orang untuk bicara, kontroversial, akan berpengaruh terhadap kelangsungan acara tersebut. Untuknya pribadi, itu berarti ketenaran dan tentu saja uang.

Untuk peserta dan pelaku percakapan yang juga provokatif, tahu bagaimana cara mengartikulasikan pikiran, pendapat dan perasaannya, akan mendapat predikat vokal dan tahu cara beretorika yang baik. Untuknya tentu itu berarti undangan untuk bicara di mana-mana, ketenaran dan sekali lagi tentu saja uang.

Nah, bukankah dengan demikian memaksa pun bisa bermakna dan berakibat positif?

Namun, jika dilihat lebih dalam, pada kenyataannya tetaplah sulit untuk melepaskan pemaksaan, dalam bentuk apapun dan untuk tujuan apapun, dari hal yang bersifat pribadi atau personal. Orang bisa saja berkata bahwa yang dia paksakan hanya pendapatnya atau pernyataannya. Dia hanya „menyerang“ pendapat atau pernyataan rekan atau lawan bicaranya, bukan rekan atau lawan bicaranya secara personal. Bisakah tetap demikian? Bukankah pemaksaan itu lebih banyak terjadi jika seseorang atau sekelompok orang lebih punya kuasa dibandingkan seseorang atau sekelompok orang lainnya? Ada pihak yang berkuasa dan ada pihak yang ditekan.

Jika tujuan pemaksaan adalah untuk memaksakan dan melanggengkan kekuasaan yang sudah tidak bisa dipaksakan lagi ada pada tempatnya, pemaksaan –dalam bentuk apapun- akan tetap bermakna negatif. Dengan demikian bisa ditarik sedikit kesimpulan, bahwa interpretasi dari memaksa, dipaksa, paksaan dan pemaksaan itu sangat tergantung pada konteks di mana percakapan itu dilakukan, kapan percakapan tersebut berlangsung, siapa pelaku percakapan tersebut dan pada tujuan si pelaku percakapan. Untuk itu tepatlah jika Gumperz mengemukakan konsep kontekstualisasi dalam penelitian etnografi yang kemudian dikembangkan dan dimodifikasi untuk diterapkan dalam penelitian analisis percakapan.[2]

Dem Anderen nicht zu nahe zu treten, ihn nicht zu zwingen, demikian Brown/Levinson (1997). Tidak masuk terlalu dekat pada yang lain, tidak memaksanya.[3] Di sinilah toleransi berperan.

Bayreuth, 140904


[1] Lihat Kallmeyer, Werner/Schmitt, Reinhold. Forcieren oder: Die verschärfte Gangart dalam Kallmeyer, Werner (Hrsg.). „Gesprächsrhetorik. Rhetorische Verfahren im Gesprächsprozeß, Gunter Narr Verlag, Tübingen, 1996. Hlm.: 22
[2] Lihat Auer (1986) dan Schmitt (1993)
Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s