Patrick Süskind: „Saya tidak memainkan kontrabass, melainkan piano“

suskind

Patrick Süskind. Tidak banyak hal yang bisa diungkap dari kehidupan lelaki kelahiran 1949 di Ambach am Starnberger See ini. Padahal anak kedua dari penulis dan jurnalis Wilhelm Emanuel Süßkind ini termasuk pengarang Jerman yang paling berhasil di kurun waktu belakang. Walaupun ia tidak terlalu banyak berkarya, tetapi setiap karyanya selalu mencapai sukses.

Kebalikan dengan karya-karyanya yang terkenal, Süskind lebih senang menutup rapat cerita tentang diri dan kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya benar-benar disembunyikan secara ekstrim dari pemberitaan media massa. Tidak pernah ada wawancara, pengambilan foto dirinya, tidak pernah mau muncul di acara-acara talkshow, bahkan penghargaan-penghargaan di bidang sastra yang dianugerahkan kepadanya pun ditolaknya. Kalaupun ia bersedia bicara sedikit tentang dirinya, ungkapan yang keluar pun tetap terasa ironis dan berjarak. Ia lebih suka “menampilkan dirinya” lewat tokoh-tokoh karyanya yang juga tidak cukup banyak.

Tokoh-tokoh utama dalam karya-karyanya adalah tokoh-tokoh antagonis (Antihelden) yang pemalu, terabaikan, kesepian, terusir, berjarak, bermasalah secara psikologis, dianggap aneh oleh masyarakatnya dan tokoh yang mereduksi dunianya dengan kesepian dan kesempitan “ruang” yang sengaja diciptakan. Tokoh Grenouille, spesialis parfum dan wewangian, dalam romannya yang paling terkenal Das Parfüm (Parfum), adalah tokoh yang memiliki “hasrat yang besar terhadap wewangian” sehingga menjadikannya pembunuh masal. Tokoh tersebut digambarkan sebagai orang yang “biasa-biasa saja” dalam komunitas masyarakatnya. Demikian pula dengan tokoh utama dalam cerita Die Taube (Merpati). Jonathan Noet, nama tokoh utama tersebut, adalah seorang petugas keamanan sebuah Bank, yang karena kemonotonan hidupnya yang sepi, ia menjadi kehilangan arah dan akhirnya membawanya ke arah bunuh diri.

Karyanya yang lain adalah Die Geschichte von Herrn Sommer (Kisah Tuan Sommer)[1] . Roman ini bercerita tentang lelaki yang hidupnya hanya diisi dengan berjalan-jalan menyusuri desanya sampai pada saat dia mengakhiri hidupnya di sebuah danau. Cerita tentang Tuan Sommer dibuat dengan teknik penceritaan “aku pencerita”, yang jelas-jelas menggambarkan kehidupan Patrick Süskind dan ayahnya.

Selanjutnya Drei Geschichten und eine Betrachtung (Tiga Cerita dan Satu Pengamatan) adalah cerita tentang seorang pelukis wanita muda dalam bentuk kisah yang satiris-grotesk. Tokoh dalam karya ini dikisahkan bunuh diri karena mengalami krisis penciptaan karya setelah lukisan-lukisannya dikritik keras karena dianggap “tidak dalam”.

Si pemain kontrabass dalam karya monolog Süskind Der Kontrabass ini pun adalah seorang lelaki pemabuk di usia pertengahan 30-an. Tokoh ini hidup sendiri kesepian di kamarnya yang kedap suara, terabaikan, tersiksa oleh alat musik yang dianggap menjadi penghalang hidupnya bahkan kehidupan cintanya. Tokoh ini digambarkan sebagai manusia “biasa-biasa saja” dan sangat ingin “dianggap ada” serta diakui keberadaannya.

Dengan tetap berusaha berjarak, Süskind menulis sedikit tentang dirinya dalam pengantar karyanya ini. Ia menulis bahwa “saya tidak memainkan Kontrabass, melainkan piano”. Sesuatu yang kontradiktif. Ia membuat karya tentang alat musik dan pemusik yang sama sekali tidak dimainkannya.

Süskind sendiri tumbuh dalam keluarga yang mencintai musik. Pendidikan musiknya dijalani saat ia berusia 7 tahun sampai usia 19 tahun. Namun, ia kemudian memutuskan berhenti belajar piano dan tidak mau berkarir di musik karena dari ayahnya ia merasa “mendapat warisan jari kelingking yang pendek”, dan dari ibunya ia mewarisi “jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis yang terlalu panjang”. Menurutnya itu tidak cocok untuk menjadi seorang pemain piano. Semua “warisan orang tuanya” itu mengakibatkan dia hanya bisa menjadi pemain piano pengiring dan hanya bisa memainkan bagian akkordnya saja. Sampai kapan pun ia tidak bisa berkarir solo, terangnya.

Akhirnya, tahun 1968 ia memutuskan untuk belajar sejarah di Universitas München dan lulus dengan hasil yang bagus. Pekerjaan sampingannya selama masa studi di München adalah sebagai pegawai paruh waktu di bagian kontrak dan hak paten perusahaan Siemens. Ia juga pernah bekerja di sebuah klub dan pernah menjadi pelatih tenis meja. Selama bekerja ia terus menulis dan tulisan-tulisannya itu membawa Süskind menjadi penulis “karya-karya prosa pendek yang sempat tidak bisa diterbitkan dan menulis skenario-skenario film yang lama tak kunjung difilmkan”. Biaya hidup ia dapatkan dari “ekspose yang karena stilnya yang sopanlah maka tidak bisa ditolak oleh redaktur TV”. Begitu ungkapnya.

Der Kontrabass, menurut Süskind, adalah kisah tentang seorang lelaki di kamarnya yang kecil, selain juga kisah tentang makna sebuah benda. Dia tidak merasa perlu memaknai karyanya itu dengan berlebihan.

Süskind, lelaki pemalu dan penyendiri yang saat ini tinggal di München, Paris dan Montolieu di Perancis Selatan, berjanji akan membuat wawancara di ulang tahunnya ke-70, tahun 2019, untuk menceritakan rahasia hidupnya. Mungkin di saat itu ia akan bercerita pula tentang hidupnya yang “sebagian besar dihabiskan di dalam kamar-kamar yang semakin lama semakin kecil, tapi sulit untuk ditinggalkan”. Mungkin ia pun akan bercerita apakah harapannya untuk “suatu saat menemukan kamar yang begitu kecil dan begitu sempit melingkupinya, sehingga saat bepergian kamar itu pun bisa dibawanya” sudah tercapai atau belum. Seperti yang diungkapkan lewat tokohnya: si pemain kontrabass.

Bayreuth, 140404

Diambil dari berbagai sumber:
Süskind, Patrick. Der Kontrabaß. 3. Auflage, Diogenes Verlag, Zürich, 1997.
Hotz, Karl (Hrsg.). Buchners Schulbibliothek der Moderne: Patrick Süskind Der Kontrabaß. 1. Auflage, C.C. Buchners Verlag, Bamberg, 1998.
Krischel, Volker. Erläuterungen zu Patrick Süskind Der Kontrabaß. 1. Auflage, C. Bange
Verlag, Hollfeld, 2002.

Korespondensi pribadi penulis dengan Patrick Süskind lewat surat elektronik pada awal tahun 2004.


[1] Sedang dalam proses penerjemahan.

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s