Auferstehung – Kebangkitan dengan Musik

Hari Sabtu cerah di saat orang-orang sibuk menyiapkan paskah: bersenang-senang dengan melukis telur dan menghadiahkan coklat berbentuk kelinci. Makan siang bersama dua orang teman, satu dari Taiwan, satu dari Korea Selatan, kami bicara banyak hal, mulai dari soal kuliah, rencana masa depan, Yogya, Borobudur, Prambanan dan Parangtritisnya (Joana, teman dari Korea Selatan itu pernah berlibur di Yogya dan Jakarta), sampai ke soal durian dan salak Pondoh yang semakin membuat saya rindu rumah.

Pembicaraan akhirnya berlanjut ke situasi ekonomi dan politik di negara kami masing-masing. Masalah yang dihadapi memang sama: pemerintahan yang korup. Kemudian ke soal Korea Selatan dan Korea Utara. Situasi separah itu tidak pernah terbayang sebelumnya dalam kepalaku. Bagaimana militer Amerika tetap bercokol di Korea Selatan, punya privilege lebih, tak tersentuh pajak dan hukum apapun, membuat mereka merasa berhak memperkosa perempuan-perempuan Korea, melakukan tindak kriminalitas lainnya, tetap mendapatkan uang, berfoya-foya di negara yang bukan negaranya. Padahal di negaranya sendiri mereka bukan apa-apa. Melakukan berbagai tuduhan bahwa pihak Utara memiliki senjata kimia, nuklir. Tuduhan basi. Ikut campur dan mengintimidasi pemerintahan Selatan bahkan isi kepala orang-orang Selatan. Membuat mereka merasa bahwa mereka lebih demokratis dibandingkan Utara.

Tapi apakah itu demokratis jika orang tidak bisa sama sekali “bicara” dan bicara dengan orang Utara? Untuk satu kartu pos, itu artinya hukuman penjara minimal 2 tahun. Untuk satu kontak yang singkat, itu artinya penjara untuk sekian tahun.Untuk satu pemikiran baru, itu artinya penjara seumur hidup, untuk kemudian dihukum mati.

Pertemuan di antara keluarga-keluarga yang terpisah: orang tua, suami, istri, anak, kakak, adik, kekasih, dirancang dan dipolitisir untuk menarik simpati dunia luar. Dua jam saja. Dua jam dengan tentara dan media massa yang ingin “mengabadikan” tangis dan kesakitan yang tidak akan pernah bisa sembuh karena kesalahan yang tidak pernah mereka buat. Dua jam yang menambah luka dan kesakitan yang baru. Dua jam yang membuat mereka akhirnya memutuskan sebaiknya tidak usah bertemu sama sekali, karena hanya menambah luka dan kesakitan itu.

Setelah sekian lama dan itu masih terjadi sampai sekarang, semakin menambah luka yang berubah menjadi kebencian amat sangat. Saling menyalahkan. Tapi siapa yang salah? Bukankah mereka hanya korban dari permainan busuk segelintir orang yang haus kekuasaan?

Tak terjawab. Kami hanya diam, terpekur dengan kepala penuh dan rasa sedih yang sudah tidak bisa kami keluarkan lagi. Rasa sedih yang semakin dalam, menyadari kami sama sekali tidak bisa berbuat apapun. Beberapa menit kami hanya diam, tunduk, dan menarik nafas dalam-dalam dalam keheningan yang menyakitkan, menyadari negeri kami dihancurkan sedemikian rupa oleh kekuasaan abstrak, ideologi yang dipaksakan, penindasan terselubung dengan embel-embel demokrasi, modernisasi. Kesedihan yang menyakitkan, karena bangsa kami tidak menyadari dan mau saja dijadikan boneka “mereka”.

Begitulah akhirnya makan siang kami berakhir. Meninggalkan jejak dalam kepala kami: janganlah kami seperti mereka dan “mereka”.

***

Hari Minggu paskah yang juga cerah, semilir angin awal musim semi yang masih terasa dingin mengiringi langkah saya melewati Hofgarten, agak terburu karena tidak ingin terlambat sampai ke Markgräfisches Opernhaus untuk memenuhi undangan Joana: melihat konser musik klasik dari Gustav Mahler “Auferstehung” ´Kebangkitan´ oleh Internationale Junge Orchester Akademie.

Di dalam gedung opera megah berwarna turkis, dengan hiasan, lukisan, ukiran, sulur-sulur keemasan bercorak barok dan rokoko yang dibangun oleh Markgräfin Wilhelmine, saudara perempuan kesayangan Friedrich der Große, raja Prusia, di abad ke-17, saya “diajak” masuk ke abad 17, ke masa yang hanya bisa saya baca dan lihat gambarnya di buku-buku, di kartu pos atau di lukisan-lukisan. Memang tidak dengan putri-putri berpakaian sutra dan beledu berenda menyapu lantai, rambut halus keemasan disisir rapi dan digelung ke atas atau pangeran-pangeran bersepatu setinggi betis dengan jas hitam dan kemeja putih. Namun, warna hitam yang mendominasi pakaian yang mereka kenakan, membuat suasana tampak elegan dan eksklusif: datang untuk suatu konser musik klasik di gedung opera yang menjadi kebanggaan kota ini. Suatu kebanggaan jika bisa datang ke tempat tersebut, membayar tiket yang cukup mahal untuk 90 menit pertunjukan musik klasik. High culture, Hochkultur, budaya dan seni tinggi, katanya.

Saya sendiri datang karena undangan dari Achim lewat Joana, itupun untuk tempat berdiri di balkon, lantai ketiga. Untuk melihat pertunjukan dari kejauhan dan berdiri selama hampir 2 jam itu pun orang harus membayar 10 Euro. Achim bisa mendapatkan empat tiket gratis untuk kami karena dia kenal dengan salah seorang anggota panitia penyelenggaranya.

Kami datang dengan pakaian normal kami: jeans, pullover, jacket, sepatu boot, tak lupa ransel kami masing-masing. Saya sendiri memang lebih suka berpakaian demikian, karena saya datang memang hanya untuk musik. Untuk musik, bukan untuk pakaian. Untuk musik yang ingin saya nikmati dengan hati dan perasaan saya, kadang juga dengan kepala saya. Untuk musik yang bisa membawa saya berkelana dengan imajinasi saya. Berkelana menembus dimensi ruang dan waktu. Berkelana menembus batas apapun. Untuk musik yang sudah menjadi hidup dan bagian hidup saya. Entah apa jadinya jika hidup saya sepi tanpa dentingnya.

Melihat peralatan orkestra lengkap: panggung pertama alat musik gesek, dengan seorang solis perempuan untuk biola pertama, terdiri atas 16 biola pertama, 16 biola kedua, 12 viola, 12 cello, 6 kontrabass, di sayap kanan kiri 2 kontrabass dan 2 harpa, panggung kedua untuk alat musik tiup dari kayu: picocolo, 3 suling, 3 oboe, English horn, 2 klarinet B moll, klarinet bass, 3 basun dan basun dobel, juga alat musik tiup bras: 8 horn, 5 terompet, 3 trombon, tenor tuba B moll, tuba bass, paling belakang perkusi: timpani, drum bass, simbal, side drum, drum tenor.

Satu persatu para pemusik muda yang datang dari berbagai negara di dunia memasuki tempatnya masing. Pakaian mereka hitam-hitam. Penuh percaya diri mereka memegang alat musik mereka masing-masing. Ah, betapa menyenangkannya bermusik. Meleburkan hidup dengan alat yang menghasilkan bunyi-bunyian dan nada-nada indah menembus segala batas…

gustav mahler

Symphonie No. 2 c-Moll “Auferstehungssymphonie” dari Gustav Mahler. Allegro maestoso yang energis bertempo mars dari permainan biola dan bras, sesekali ditingkahi dengan permainan solo biola dan flute yang membawa suasana damai, berlangsung sekitar 25 menit. Kemudian dilanjutkan dengan Andante moderato yang lebih lambat, selanjutnya “In ruhig fließender Bewegung” ´dalam gerakan yang mengalir tenang´, kemudian “Urlicht: Sehr feierlicht, aber schlicht” dengan teks dari puisi Clemens Brentano “Urlicht” dan “Des Knaben Wunderhorn”-nya Achim von Arnim. Diakhiri dengan “Im Tempo des Scherzos: Wild herausfahrend” dengan dua solis sopran dan alto diiringi chor, membuat musik yang kadang mengalir tenang, kadang dinamis bertempo mars itu semakin membuat saya melayang, tidak ada dalam ruangan itu. Gerakan-gerakan tubuh seragam yang otomatis tercipta seiring dengan irama dan tempo yang dihasilkan menjadi gerakan-gerakan yang indah. Ekstasis saat bermusik, lebur dalam iramanya, dalam nadanya, dalam dentingnya.

Ya, saya datang memang hanya untuk musik. Menikmati dan semakin mensyukuri bahwa Tuhan menciptakan musik. 10 menit ovation untuk musik yang sangat indah, nikmat yang sangat besar, tidaklah cukup.

Itulah yang terjadi dan semakin saya syukuri, juga saat kami berempat duduk sebentar di sebuah cafe dekat gedung opera tersebut. Melihat Joana yang begitu bersemangat mengetahui bahwa ada pemusik dari Korea Selatan dan dari Korea Utara. Melihat dia yang begitu gembira akan bertemu dengan para pemusik dari Korea Utara, berbicara dengan mereka. Suatu hal yang tidak bisa dan tidak boleh dilakukannya karena alasan politik. “Jika ada yang tahu atau ada yang memberitahu bahwa saya berbicara dengan orang Utara, saya akan dipenjara dan ayah saya akan membunuh saya, tapi saya tidak peduli. Saya akan bicara dengan mereka,” katanya. Kemudian kami merencanakan pertemuan mereka esok paginya.

Musik memang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Musik memang bisa menghilangkan batas dan halangan apapun. Musik memang bisa menembus dimensi ruang dan waktu. Musik memang bahasa yang universal. Musik memang indah, musik memang damai…

Ah, seandainya dunia memang bisa damai dengan musik, apakah tidak sebaiknya manusia bermusik saja?

Bayreuth, 110404

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s