Auferstehung – Kebangkitan dengan Musik

Hari Sabtu cerah di saat orang-orang sibuk menyiapkan paskah: bersenang-senang dengan melukis telur dan menghadiahkan coklat berbentuk kelinci. Makan siang bersama dua orang teman, satu dari Taiwan, satu dari Korea Selatan, kami bicara banyak hal, mulai dari soal kuliah, rencana masa depan, Yogya, Borobudur, Prambanan dan Parangtritisnya (Joana, teman dari Korea Selatan itu pernah berlibur di Yogya dan Jakarta), sampai ke soal durian dan salak Pondoh yang semakin membuat saya rindu rumah.

Pembicaraan akhirnya berlanjut ke situasi ekonomi dan politik di negara kami masing-masing. Masalah yang dihadapi memang sama: pemerintahan yang korup. Kemudian ke soal Korea Selatan dan Korea Utara. Situasi separah itu tidak pernah terbayang sebelumnya dalam kepalaku. Bagaimana militer Amerika tetap bercokol di Korea Selatan, punya privilege lebih, tak tersentuh pajak dan hukum apapun, membuat mereka merasa berhak memperkosa perempuan-perempuan Korea, melakukan tindak kriminalitas lainnya, tetap mendapatkan uang, berfoya-foya di negara yang bukan negaranya. Padahal di negaranya sendiri mereka bukan apa-apa. Melakukan berbagai tuduhan bahwa pihak Utara memiliki senjata kimia, nuklir. Tuduhan basi. Ikut campur dan mengintimidasi pemerintahan Selatan bahkan isi kepala orang-orang Selatan. Membuat mereka merasa bahwa mereka lebih demokratis dibandingkan Utara.

Weiterlesen