<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>From This Moment</title>
	<atom:link href="http://dianekawati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dianekawati.wordpress.com</link>
	<description>"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum"</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 23:27:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>de</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dianekawati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>From This Moment</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dianekawati.wordpress.com/osd.xml" title="From This Moment" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dianekawati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? &#8211; Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/27/quo-vadis-pendidikan-tinggi-indonesia-catatan-iseng-dari-sebuah-pembacaan-bagian-1/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/27/quo-vadis-pendidikan-tinggi-indonesia-catatan-iseng-dari-sebuah-pembacaan-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 22:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arbeit]]></category>
		<category><![CDATA[Buch]]></category>
		<category><![CDATA[Leben]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/27/quo-vadis-pendidikan-tinggi-indonesia-catatan-iseng-dari-sebuah-pembacaan-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/27/quo-vadis-pendidikan-tinggi-indonesia-catatan-iseng-dari-sebuah-pembacaan-bagian-1/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=864&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.</p>
<p>Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.</p>
<p>Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya &#8222;omelkan&#8220; dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.</p>
<p>Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya &#8222;kerjasama&#8220; ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan &#8222;tradisional&#8220;, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.</p>
<p>Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).</p>
<p>Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang &#8222;baik&#8220;, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.</p>
<p>Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.</p>
<p>Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.</p>
<p>Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih &#8222;baik&#8220; dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!</p>
<p>Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. <em>The right man in the right place</em>. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.</p>
<p>Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.</p>
<p>Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar, <em> </em>tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa &#8222;berjarak&#8220; dan &#8222;objektif&#8220; dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji &#8222;rumah&#8220; sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: <em>painfull. </em>Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/864/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=864&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/27/quo-vadis-pendidikan-tinggi-indonesia-catatan-iseng-dari-sebuah-pembacaan-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Offside</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/01/offside/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/01/offside/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 22:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/01/offside/</guid>
		<description><![CDATA[Di saat orang berpesta pora di luar, di malam pergantian tahun seperti biasa saya memilih menepi dan menyepi. Kebetulan pula saya menonton film Iran yang dibuat tahun 2006 berjudul “Offside”. Film berbahasa Persia dan disutradarai oleh Jafar Panahi ini berkisah &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/01/offside/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=713&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di saat orang berpesta pora di luar, di malam pergantian tahun seperti biasa saya memilih menepi dan menyepi. Kebetulan pula saya menonton film Iran yang dibuat tahun 2006 berjudul “Offside”. Film berbahasa Persia dan disutradarai oleh Jafar Panahi ini berkisah tentang anak-anak perempuan yang ingin menonton pertandingan sepakbola antara Iran dan Bahrain. Pertandingan ini adalah pertandingan penentuan babak kualifikasi piala dunia untuk menentukan negara mana yang akan menjadi wakil Asia dalam babak final Piala Dunia di Jerman.</p>
<p>Diawali dengan seorang bapak yang pergi ke stadion untuk mencari anak gadisnya yang kabarnya pergi menonton bola ke stadion, karena di Iran perempuan dilarang menonton sebuah pertandingan di lapangan secara langsung. Akibatnya banyak perempuan penggemar bola berusaha dengan beragam cara untuk menonton pertandingan di lapangan, dari mulai berdandan a la laki-laki, sampai mencuri-curi masuk ke dalam stadion melewati penjagaan dan pemeriksaan yang ketat dari tentara. Film semi documenter ini hampir seluruhnya berisi dialog-dialog antara anak-anak perempuan yang tertangkap dengan para penjaganya. Namun, dialog ini tidak membosankan, karena lewat dialog-dialog ini Panahi menyoroti aspek-aspek sosial kemasyarakatan di Iran, terutama tema-tema seputar dinas militer dan peraturan-peraturan yang mengatur peran perempuan Iran dalam masyarakat. Kritik tajam misalnya dilontarkan salah seorang anak perempuan “tomboy” yang ditahan terhadap si penjaga  yang marah-marah karena menurut si penjaga gara-gara para perempuan-perempuan itu, dia tidak bisa pulang ke desanya dan membantu ibunya menggembalakan kambing dan mengolah ladang. Menurut si anak perempuan, si penjaga seharusnya bisa lebih tegas menolak perintah dan menuntut hak liburnya, karena tugas dia sebagai anak lebih penting. Si anak perempuan kemudian juga “menggugat” mengapa perempuan tidak boleh menonton pertandingan bola di lapangan, yang dijawab oleh si penjaga, karena para lelaki yang ada di lapangan bola itu kasar, suka mengumpat dan itu berbahaya bagi perempuan, yang kemudian “digugat” lagi oleh si anak perempuan, mengapa perempuan boleh berduaan pergi dengan lelaki ke bioskop, padahal justru di sana lebih “berbahaya” lagi. Stereotype tentang perempuan tidak mengerti sepak bola juga disorot di sini, karena ternyata mereka juga tahu teknik-teknik dalam permainan sepak bola, tidak hanya masalah fanatisme dan wajah tampang para pemain bola, ini juga membuat para lelaki penjaga heran. Scene yang cukup menggelitik adalah saat salah seorang anak perempuan ingin buang air kecil, karena di stadion tidak ada WC untuk perempuan, maka  setelah memaksa-maksa akhirnya dia diijinkan ke WC dengan wajah ditutupi poster bergambar wajah salah seorang pemain sepak bola. Si penjaga kemudian mengusir semua laki-laki yang ada di toilter atau yang ingin ke toilet, karena tidak boleh ada yang melihat anak perempuan itu. Demikian juga si anak perempuan diwanti-wanti untuk tidak membaca tulisan apapun yang ada di dinding toilet, karena katanya bahasanya sangat kasar dan tidak pantas dibaca oleh seorang wanita.</p>
<p>Banyak paradoks yang menarik ditampilkan dalam film ini, di satu sisi ada hal-hal “naif” dan “humanis” dari sisi para penjaga, yang notabene juga manusia biasa, laki-laki yang punya ibu, istri dan saudara perempuan. Ada ketidakberdayaan melawan para petinggi dan pimpinan yang juga semena-mena saja terhadap bawahannya. Dan tentu saja “protes” para perempuan yang “ingin disetarakan” dalam hal menonton sepak bola, yang tentu saja menjadi sebagian kecil dari protes terhadap ketidakadilan yang mereka dapatkan.</p>
<p>Di akhir film diceritakan bagaimana anak-anak perempuan itu dan para penjaga mereka bersuka cita bersama saat tim Iran bisa menang 1 – 0 atas Bahrain dan kemudian bisa lolos ke putaran final Piala Dunia di Jerman saat itu. Sepakbola menghilangkan sekat-sekat itu ternyata, semua menyatu dalam kegembiraan yang sama, walaupun sepakbola juga tak lepas dari intrik dan permainan politik.</p>
<p>Film yang penuh kewajaran, tidak meledak-ledak, namun berhasil membuat saya tersenyum di beberapa bagian. Senyum dengan kesadaran penuh, bahwa hidup ini memang paradoksal. Seperti saya yang lebih suka memilih menepi di saat kebanyakan orang tumpah ruah berpesta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/713/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=713&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2012/01/01/offside/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ich will du sein</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 18:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/"><img src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/12/ich-will-du-sein.jpg" alt="Ich will du sein" class="size-full wp-image-703" /></a> <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=706&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/"><img src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/12/ich-will-du-sein.jpg?w=584" alt="Ich will du sein" class="size-full wp-image-703" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/706/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/706/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=706&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/12/31/ich-will-du-sein/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/12/ich-will-du-sein.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ich will du sein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Praha</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/29/praha/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/29/praha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 22:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alltag]]></category>
		<category><![CDATA[Literatur]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Person]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Reise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/?p=690</guid>
		<description><![CDATA[Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/29/praha/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=690&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. <a title="Kafka-Pulang" href="http://dianekawati.wordpress.com/2003/11/">8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah</a>. <a href="http://www.youtube.com/watch?v=kdtLuyWuPDs&amp;feature=related">8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. </a>Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. <a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/11/prague.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-696" title="Prague" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/11/prague.jpg?w=1024&#038;h=682" alt="" width="1024" height="682" /></a><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/08/pragsw.jpg">(Bayreuth, November 2003 &#8211; Bayreuth, November 2011)<br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/690/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=690&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/29/praha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/11/prague.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Prague</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadget or no gadget &#8211; That&#8217;s (not) the question</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/03/gadget-or-no-gadget-thats-not-the-question/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/03/gadget-or-no-gadget-thats-not-the-question/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 20:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/03/gadget-or-no-gadget-thats-not-the-question/</guid>
		<description><![CDATA[Bangun tidur, kemudian ngecek email, ada email dari redaksi majalah Femina untuk permintaan wawancara. Gaya banget sih, hehe. Mbak Ficky,redaktur yang baik hati itu sedang membuat tulisan tentang topik seberapa besar ketergantungan kita pada gadget. Jadi senyum-senyum sendiri bacanya dan &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/03/gadget-or-no-gadget-thats-not-the-question/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=692&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangun tidur, kemudian ngecek email, ada email dari redaksi majalah Femina untuk permintaan wawancara. Gaya banget sih, hehe. Mbak Ficky,redaktur yang baik hati itu sedang membuat tulisan tentang topik seberapa besar ketergantungan kita pada gadget. Jadi senyum-senyum sendiri bacanya dan dengan senang hati saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dia yang sebenarnya sedikit, tapi saya jawab panjang lebar (dasarnya saya memang cerewet, hehe). Maaf, Mbak Ficky ;)</p>
<p>Gadget yang dalam bahasa Indonesia  sebenarnya disebut gawai  atau acang (ngga enak banget nih kata) adalah “suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gawai dianggap dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya.” Definisi yang abstrak, seperti biasa. Namun, yang jelas gadget ini (saya pakai istilah dalam bahasa Inggris saja, yang umum, karena tadi pertanyaan dalam wawancaranya juga memakai kata gadget bukan gawai atau acang) adalah “a small technological object (such as a device or an appliance) that has a particular function, but is often thought of as a novelty. “ Jadi biasanya lebih sering dihubungkan dengan telefon genggam, smartphone, laptop/netbook, tablets, dll.  </p>
<p>Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan Mbak Ficky sebenarnya sudah pernah saya tuliskan dalam bentuk lain di blog ini. Namun, waktu berubah, dan ternyata ada beberapa perubahan yang “menyenangkan” saat saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Ficky.</p>
<p>Bisakah hidup sehari saja tanpa gadget? Misalnya phone off. Itu pertanyaan pertama dan langsung saya jawab bisa. Bahkan sering.  „Phone“ di sini adalah HP atau smartphone lainnya. Sedikit cerita, pertama kali saya punya HP di tahun 2000 itu atas bujukan teman dekat saya saat itu, dengan alasan agar dia bisa menghubungi saya kapanpun. Itu gantian setelah saya yang awalnya membujuk dia agar punya HP supaya saya bisa menghubungi dia kapanpun, karena dia sering „beredar“. Setelah dia mengabulkan permintaan saya, gantian saya yang malas-malasan beli HP (memang tidak ingin dicari, hahaha).  Jadi memang dasarnya saya sudah punya “bakat” tidak mau “terganggu” secara personal dengan barang bernama HP ini. Lama-lama ternyata saya tergantung juga pada barang ini, apalagi saat itu mobilitas saya tinggi sekali dan kadang karena masalah kemacetan atau acara-acara dadakan saya harus mengubah jadwal, mengatur ulang janji, kadang harus membatalkannya.  Dulu, HP saya belum saya silent. Gaya banget deh pokoknya, tiap saat ada telfon dan sms masuk. Kemudian tahun 2003 saya ke Jerman sampai tahun 2006, fungsi HP saya berubah drastis. Mulai ada dalam silent mode, hanya saya pakai untuk sms ke Indonesia, yang juga jarang-jarang karena mahal, hehe. Urusan di Jerman sendiri lebih sering menggunakan internet.</p>
<p>Sebenarnya saya sudah mulai mencandu internet dari tahun 1997, semakin lama semakin parah. Tidak apa-apa saya tidak menonton TV atau tidak pegang HP, asal saya tidak lepas dari internet (waktu itu smartphone belum ada).  Urusan di Jerman pun –masalah kuliah dan pekerjaan- juga lebih sering dilakukan lewat internet, terutama email. Dan internet juga menjadi penghubung saya dengan rumah. Semacam “pintu ke mana saja”nya Doraemon deh. Ya, saya sangat mencandu internet dan rasanya saat itu tidak bisa hidup tanpanya (lebay, hehehe).</p>
<p>Kebiasaan menyetel HP dalam silent mode itu berlangsung sampai sekarang. Walaupun saya sudah di Indonesia dan HP saya kembali menemukan fungsi utamanya untuk janjian, mengubah jadwal, mengatur ulang janji, dll. Untuk berlama-lama ngobrol di telefon, saya lebih suka menggunakan telefon rumah dan karena saya sudah pernah merasakan hidup sendirian jarang bertemu orang selama tinggal di Jerman , maka saya lebih senang bertemu langsung dengan orang-orang dan berbincang dengan mereka. Dan ini yang terjadi sampai sekarang.</p>
<p>Saat bekerja, HP saya yang selalu dalam silent mode itu selalu saya simpan dalam tas, tasnya saya letakkan di mana, dan saya “beredar” ke mana-mana tanpa HP. Kalau di rumah, HP saya simpan di kamar saya di atas, dan sayanya ada di bawah atau „beredar“ juga ke mana-mana.  Kalau sedang di Jerman, saya malah sering bepergian tanpa membawa HP atau membawa HP tapi HPnya mati, karena baterai HP saya sudah „semaput“, hidup segan mati tak mau.</p>
<p>Teman-teman saya sudah maklum dengan kebiasaan saya ini. Jadi biasanya mereka kemudian menghubungi saya lewat telefon rumah. Belakangan kebiasaan „jelek“ saya ini juga bertambah, jika liburan saya sama sekali tidak menyentuh internet dan HP, jadi email dan off message plus account media social yang lainnya pun tidak saya buka. Less contact. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati liburan saya dan kesempatan berharga bertemu orang-orang. Ini satu kemewahan untuk saya, yang sehari-harinya dalam beberapa tahun ini jarang bertemu orang dan sibuk sendirian. Di Indonesia kebalikannya, kesempatan bertemu orangnya banyak sekali, dan kesibukan saya juga lebih banyak, jadi memang jarang bisa terkoneksi dengan internet. Di saat-saat begini internet berfungsi sesuai dengan “kodrat”nya, hehe. Menjadi penghubung dengan dunia luar.</p>
<p>Bicara tentang internet, sejak tahun 2008 saya tidak terlalu adiktif lagi. Ada satu kondisi yang membuat saya dibenturkan pada kenyataan bahwa kadang-kadang „too much know will kill you“, hehe. Sudah pernah saya tuliskan juga di sini. Saya mulai mengatur kedekatan saya pada internet. Itulah sebabnya saya bisa “cuek” bepergian dan berlibur tanpa keinginan mengecek email (kecuali memang ada email penting yang saya tunggu) atau update status di social media (untuk yang ini sih sama sekali bukan masalah besar, karena social media untuk saya hanya berfungsi untuk media informasi bukan pribadi).</p>
<p>Bagaimana dengan gadget lain seperti smartphones atau tablets? Ini bisa jadi satu tulisan lagi, hehe. Saya mungkin boleh dibilang ketinggalan jaman, karena tidak (mau) punya smartphones dan tablets. Saat mudik kemarin, banyak orang bertanya mengapa saya tidak punya berry hitam atau apel krowak atau talenan apel, karena saya pasti mampu membelinya (disangkanya tinggal di Jerman itu uangnya banyak mungkin ya, hihi. Amiinn…J ). Saya masih pegang HP jadul keluaran Si Emen di saat hampir semua orang pegang berry hitam atau apel krowak dan talenan apel. Alasannya: HP jadul itu hadiah ultah dari teman saya, dan yang kedua: mata saya bolor sebolor-bolornya, jadi tidak suka dan tidak bisa melihat tulisan yang kecil-kecil begitu, terutama harus mengetik dengan keypad yang kecil-kecil atau menyentuh-nyentuh layar. Karena untuk saya HP dan teman-temannya itu hanya berfungsi untuk sms dan telfon, maka HP jadul saya sudah cukup memenuhi fungsinya (dan saya hanya mengganti baterenya yang dulu sudah semaput, sekarang agak mendinglah, bisa bertahan beberapa lama). Sedangkan fungsi lain dari smartphones dan tablets sudah terpenuhi dengan baik di laptop saya, yang di Jerman ini bisa terkoneksi ke internet dengan mudah di manapun, di Indonesia juga sudah demikian kan. Jadi, saya hanya senyum-senyum saja menjawab pertanyaan tersebut: saat ini saya belum perlu dan saya bisa hidup dengannya (selain karena alasan ideologis dan politis kenapa saya tidak mau menggunakan barang-barang tersebut. Ini lebaynya, jadi tidak usah ditulis di sini deh, hehehe). Seperti juga saya bisa hidup tanpa TV sejak tahun 1997, saya juga ternyata bisa saja hidup tanpa HP dan internet , kalau saya mau. Ini masalah pilihan, seperti saya yang memilih tetap hidup dengan musik, hehe.</p>
<p>Pertanyaan lainnya  adalah apa yang dirasakan hidup tanpa gadget tersebut? Sekarang saya bisa menjawab: biasa saja, tidak kehilangan apapun. Mungkin karena dulu pernah ada dalam tahap adiktif, dan sekarang bisa diibaratkan saya sudah merasa cukup. Alasannya sudah saya sebutkan di atas.</p>
<p>Pertanyaan terakhir dari Mbak Ficky adalah berapa lama rekor saya tidak berhubungan dengan gadget sama sekali. Saya jawab 1 minggu. Ya, waktu yang cukup lama untuk orang yang pernah kecanduan gadget tidak berhubungan dengan gadget sama sekali.  Dan saya menepuk-nepuk bahu saya sendiri, bangga. Akhirnya saya bisa mengatur diri saya untuk hal-hal yang sifatnya “berlebihan”.</p>
<p>Itu saya, yang suka lebay dan berlebihan. Yang lain pasti punya pengalaman dan pendapat lain. Oke, cuaca cerah di bulan November ini, saya ada kolloquium dan mau lanjut mengambil beberapa gambar. Ah, ternyata sekarang saya punya kecanduan yang lain: saya suka membeli dan mengumpulkan alat perekam. Dari mulai kamera, handycam, perekam suara, microphone, dll. Kacau, hahaha.  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=692&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/11/03/gadget-or-no-gadget-thats-not-the-question/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Belajar) Puasa</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/08/12/belajar/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/08/12/belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 03:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alltag]]></category>
		<category><![CDATA[Leben]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan di Jerman biasanya bulan saya mendadak „beken“. Bukan karena apa-apa, tetapi karena banyak orang yang bertanya tentang puasa, dari mulai pertanyaan yang murni karena tidak tahu dan ingin tahu seperti mengapa puasa, bagaimana menjalankannya, bagaimana kalau tidak kuat, &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/08/12/belajar/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=687&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Ramadhan di Jerman biasanya bulan saya mendadak „beken“. Bukan karena apa-apa, tetapi karena banyak orang yang bertanya tentang puasa, dari mulai pertanyaan yang murni karena tidak tahu dan ingin tahu seperti mengapa puasa, bagaimana menjalankannya, bagaimana kalau tidak kuat, dll sampai ke pertanyaan yang jawabannya kadang mereka sudah punya sendiri, misalnya puasa itu tidak bagus untuk kesehatan karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan cairan sepanjang puasa, sampai ke masalah penyiksaan badan. Saya bukan pakar di bidang agama, belum cukup sholeh dan pintar dalam mengutip ayat-ayat dan hadist lengkap dengan istilah dalam bahasa Arab, jadi saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu semampu logika dan pemahaman saya.  Kalau mood sedang bagus, biasanya saya jawab dengan „bagus“ juga, tapi kalau mood sedang jelek ya tidak saya jawab juga, atau saya jawab pendek agak jutek. Ya, ya, ini penyakit saya. Namun, saya jarang kok menjawab seperti itu, kan sedang puasa, masa jutek sama orang lain sih. Paling saya buat jadi candaan saja. Atau saya sudah „mengancam“ duluan dengan bilang: bosan pertanyaannya begitu  terus, sepertinya saya harus merekam jawaban saya karena dari tahun ke tahun pertanyaannya tidak kreatif, itu terus, jawaban saya juga jadinya tidak kreatif. :)</p>
<p>Jadi, tahun ini kalau dihitung sudah 7 kali saya puasa di Jerman, walau tak berurutan. Pertama kalinya di tahun 1997. Saat itu tak terasa kalau mau dilihat puasa sebagai saat menahan lapar dan haus, karena musim dingin, siang jauh lebih pendek. Matahari baru terbit jam 7.30an dan terbenam jam 16.30an. Lagipula saat itu saya kerja sampai jam 15. Selesai kerja, siap-siap bentar, maghrib deh. Begitu juga tahun-tahun berikutnya, saya masih kebagian puasa di musim dingin. Tahun lalu baru saya „kena“ puasa di musim panas, dan tahun ini juga. Puasa yang „menakutkan“ karena siang yang panjang. Imsak jam 2.30an dan buka jam 21 bahkan 21.30an. Terus terang, awalnya juga saya „takut“ membayangkan apakah saya kuat menahan lapar dan haus selama itu. Selama di Jerman, saat „membayar“ puasa pun biasanya saya lakukan segera saat musim dingin, takut siang keburu panjang. :)</p>
<p>Namun, bicara ketakutan, rasanya saya memang penakut. Dulu pun sempat takut saat pertama kali akan menjalani puasa di Jerman, saat musim dingin. Takut tidak kuat lah karena harus berpuasa pada suhu di bawah nol, takut ngiler lihat makanan ini itu, takut semua.  Perlukah? Ternyata tidak, karena setelah dijalani ternyata puasa ya biasa-biasa saja. Lapar memang, haus memang, tapi rasanya saya malah sering merasa kelaparan dan kehausan berat saat tidak berpuasa. Ah, sugesti saja. Mungkin. Karena otak „memanipulasi“ perut untuk tidak terlalu merasa lapar dan haus. Tergantung niat, kata orang-orang yang mengerti agama. Dan puasa di musim panas, yang tadinya saya bayangkan akan terasa sangat panjang,lama, pokoknya menakutkan, ternyata tidak semenakutkan itu. Entah kenapa juga, dua kali puasa saat musim panas, suhu dan cuacanya juga cukup mendukung untuk tidak merasa terlalu kehausan dan kelaparan.</p>
<p>Itu kalau masalah lapar dan haus. Bagaimana dengan godaan lainnya? Melihat orang bebas makan dan minum di mana-mana? Ternyata tidak berpengaruh juga. Puasa jalan terus. Ngiler? Yah, sedikit, tapi bisa tahan lah. Godaan lainnya? Lihat yang telanjang di sana sini termasuk melakukan „adegan panas“? Lama-lama biasa juga, lagipula tidak harus ikutan bernafsu :). Untuk saya yang paling sulit ditahan itu jutsru nafsu belanja dan urusan mengantuk yang tiada tara. Selain tentu saja nafsu mau marah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hati. Atau nafsu bergossip. Hmm, banyak juga ya? Hehe.</p>
<p>Khusus untuk puasa di musim panas ini, saya baru sadar bahwa mengantuk adalah godaan terbesar saya. Saya yang makhluk nocturnal biasanya tahan begadang sampai subuh dan tidur setelah subuh. Namun, di bulan puasa ini, segera setelah saya berbuka, mata pun langsung terasa dikenai beban seberat beberapa ton. Lebay. Tapi memang sulit sekali untuk bisa tetap membuka mata saat berbuka puasa dan menahan diri untuk tetap terjaga dan sadar bahkan di saat shalat maghrib. Biasanya saya sulit untuk beranjak ke tempat tidur (kalau sudah kena bantal sih saya memang selalu mudah tidur, tapi beranjak menuju tempat bantal itu berada yang sulit), kali ini di mana pun saya bisa jatuh tertidur.</p>
<p>Tadi sore saya diwawancara seorang sahabat untuk sebuah acara di sebuah radio di Jerman (ini wawancara serius walaupun sebelum dan sesudah wawancara acara ngobrol sana sininya lebih banyak), dia bertanya bagaimana cara saya mengatur waktu shalat saat puasa di musim panas ini. Saya terdiam sejenak, iya ya, ini yang sulit untuk saya. Subuh jam 3an, dhuhur jam 13an, ashar jam 17an, maghrib jam 20an dan isha jam 23an. Tarawihnya kapan? Ya pasti setelah isha dong. Bisa sampai jam 24 itu, kalau kebetulan sedang ikut tarawih di mesjid Arab (istilah untuk mesjid yang pengunjungnya kebanyakan dan dikelola orang Arab, bukan orang Turki, tapi orang Indonesia sih enak, bisa ke mesjid mana saja, dan diakui di mesjid mana saja. Tinggal pilih ingin yang cepat atau yang pendek, hehe. Eh, mesjid juga politis lho, walaupun seharusnya tidak  ;) ) yang imamnya sering membacakan surat-surat panjang dan tarawihnya sampai 21 bahkan 23 rakaat. Pulang ke rumah istirahat sebentar sudah siap-siap lagi untuk sahur. Nah lho, tidurnya kapan?</p>
<p>Ternyata untuk saya pertanyaannya jadi terbalik,  bukan lagi bagaimana saya mengatur waktu shalat jadinya, karena shalat ya jadwalnya sudah ditetapkan, dan ingin saya jalankan sesuai waktu. Namun, bagaimana saya mengatur waktu tidur saya. Karena di bulan puasa ini, biasanya saya juga suka mendadak jadi ingin lebih rajin melakukan ritual spiritual saya. Atau jangankan itu lah, untuk „urusan duniawi“ saja, di bulan puasa juga saya tetap harus bekerja dan menyelesaikan urusan ini itu yang seringkali harus dilakukan pagi-pagi jam 8 atau jam 9. Sehabis makan sahur dan buka saya tidak bisa langsung tidur juga, berbahaya untuk kesehatan (ini tentu berlaku untuk setelah jam-jam makan lainnya juga).  Jadi kapan saya tidur, jika saya baru bisa tidur sekitar jam 5 atau jam 6 pagi kemudian jam 8 atau jam 9 sudah berkegiatan sepanjang hari sampai sore, sementara waktu malam yang pendek juga tidak memungkinkan untuk tidur langsung sampai subuh, kecuali kalau mau tidak sahur. Namun, saya bukan tipe orang yang bisa puasa tanpa makan sahur atau dengan cukup minum air putih saja. Tepatnya lagi saya tidak mau, sadar diri saja, perut saya sudah cukup bermasalah, jadi tidak mau mengambil resiko sok kuat tidak pakai sahur, walaupun biasanya saat sahur pun saya masih cukup kenyang, karena jarak dari waktu berbuka ke sahur itu cukup pendek. Akhirnya, saya mencuri-curi waktu untuk tidur di antara waktu dhuhur dan ashar, atau di antara ashar dan maghrib atau di antara maghrib dan isha. Sejam dua jam saja. Tidak cukup kalau mau mengikuti keinginan, tapi daripada tidak tidur sama sekali, waktu ini sudah sangat berharga.</p>
<p>Jadi, masalah utama saya ternyata bukan di saat berpuasa siang hari, tapi justru di saat malam ketika sedang tidak berpuasa lagi. Itu kesulitan utama untuk saya, jika saya ditanya apa kesulitan puasa saat musim panas:  menyesuaikan waktu tidur. Dan makhluk nocturnal seperti saya pun ternyata menyerah juga pada godaan kantuk ini. Ujian terberat untuk saya ternyata bukan pada saat menahan lapar dan haus, menahan nafsu makan dan minum di siang hari, namun menahan kantuk, ya itu tadi, agar saya bisa tetap dalam keadaan sadar saat makan dan minum di waktu berbuka dan di saat shalat, agar saya tidak jatuh tertidur menelungkup di atas piring atau langsung nyenyak saat sujud di waktu shalat.</p>
<p>Ya, tentu saja, puasa bermakna lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, begitu pelajaran yang saya ketahui dari orang-orang yang lebih mengerti agama. Puasa katanya juga bermakna pengendalian diri. Dan saya bersetuju dengan itu, sudah disebutkan di atas. Namun, puasa untuk saya juga adalah proses penyeimbangan, lahir dan batin, dengan menahan beberapa hal untuk melakukan beberapa hal lainnya. Dan proses ini, saya tahu, seharusnya tidak hanya terjadi di bulan puasa saja, tetapi –idealnya- di bulan-bulan yang lainnya juga. Tidak mudah, saya sering –dan hampir selalu- gagal.  Lebih dari itu semua, puasa untuk saya juga bermakna syukur. Tidak hanya pada kenikmatan mencecap teh hangat pertama setelah belasan jam tak minum, tapi juga pada kenikmatan bisa memejamkan mata di sela-sela proses penyeimbangan lahir dan batin tadi. Untuk ini, saya harus selalu diingatkan dan mengingatkan diri sendiri, karena saya masih sering juga lupa pada nikmatNya yang bertebaran dalam hidup saya. Termasuk nikmat jadi orang yang mendadak „beken“ di bulan puasa, karena saya pun jadi bisa bertanya lebih banyak pada diri sendiri dan lebih banyak belajar untuk mencari jawabannya. Semoga :)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/687/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/687/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=687&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/08/12/belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Lagi dari Jepang</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/07/17/belajar-lagi/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/07/17/belajar-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 22:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alltag]]></category>
		<category><![CDATA[Leben]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Dan saya belajar lagi dari sepak bola, bahwa perjuangan detik ke detik, menit ke menit itu bisa membuahkan hasil yang manis. Tidak menyerah, yang penting melakukan yang terbaik setiap saatnya. Mungkin hasilnya bisa seperti yang diinginkan, bisa juga tidak. Namun, &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/07/17/belajar-lagi/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=680&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-681" title="japan" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>Dan saya belajar lagi dari sepak bola, bahwa perjuangan detik ke detik, menit ke menit itu bisa membuahkan hasil yang manis. Tidak menyerah, yang penting melakukan yang terbaik setiap saatnya. Mungkin hasilnya bisa seperti yang diinginkan, bisa juga tidak. Namun, itu masalah lain, yang penting adalah terus berusaha. Dan saya belajar dari perempuan yang bermain bola. Kecepatan lari mereka sama seperti laki-laki berlari. Tendangan mereka sama kuatnya. Tangkapan mereka sama akuratnya. Namun, kerapian dan ketenangan mereka layak diacungi jempol. Rapi, tenang, tak banyak tingkah, itu mereka. Dan saya belajar dari orang Jepang yang bermain bola. Mental Jepang yang sudah terkenal tak kenal menyerah selalu membuat kagum. Dan saya terutama belajar dari perempuan Jepang yang bermain bola. Postur boleh kalah tinggi dan besar dari pemain-pemarin Eropa, Amerika dan Afrika, lari boleh kalah cepat, tapi tendangan mereka tetap kuat dan tangkapan mereka tetap akurat, terutama lagi: semangat mereka bisa saya bilang: gila! Mental mereka kuat, tak lelah saat gawang mereka diserang bertubi-tubi, tak habis saat pemain lawan sudah di atas angin. Keadaan pun berbalik. Usaha keras membuahkan hasil. Ketenangan membawa bukti. Mainkan saja. Konsentrasi saja. Keberuntungan pun berpihak pada mereka yang berusaha kuat dan bertahan dari serangan. Pada mereka yang tekun dan sabar.</p>
<p>Saya belajar lagi dari sepakbola, dari perempuan yang bermain bola, dari orang Jepang, dan dari perempuan Jepang yang bermain bola. Mereka yang masih bisa bersikap tenang tanpa eforia berlebihan saat kemenangan besar mereka genggam. Tak mengecilkan yang kalah. Kalah atau menang, pada akhirnya itu &#8222;cuma&#8220; hasil akhir, yang &#8222;hanya&#8220; terlihat dari warna medali dan digenggamnya piala. Sejatinya, kalah dan menang ada pada diri dan kebesaran hati.</p>
<p>*Salut pada dua tim hebat: Jepang dan Amerika yang sudah memberikan permainan yang luar biasa. Dua-duanya tim yang hebat. Aber am Ende, man braucht auch Glück, statt nur klug zu sein. Gratuliere <a href="http://de.eurosport.yahoo.com/17072011/73/frauen-wm-wm-wahnsinn-japan-schnappt-titel.html">Japan, die erste Weltmeisterin aus Asien!</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/680/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=680&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/07/17/belajar-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/07/japan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">japan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Aegean: #1Turunçda Hoşgeldiniz</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/25/menyusuri-aegean-1turunc-hosgeldiniz/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/25/menyusuri-aegean-1turunc-hosgeldiniz/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 00:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Leben]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Reise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/?p=667</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan kali ini benar-benar tak direncanakan. Memang beberapa kali saat berbincang malam-malam, kami mengungkapkan keinginan berlibur ke Turki. Sempat juga browsing tempat dan berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan, selain juga menyesuaikan waktu yang kami punya, karena kami juga berkejaran dengan &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/25/menyusuri-aegean-1turunc-hosgeldiniz/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=667&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan kali ini benar-benar tak direncanakan. Memang beberapa kali saat berbincang malam-malam, kami mengungkapkan keinginan berlibur ke Turki. Sempat juga browsing tempat dan berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan, selain juga menyesuaikan waktu yang kami punya, karena kami juga berkejaran dengan tugas dan deadlines. Dan akhirnya ketika saya juga dengan spontan memutuskan pergi ke NRW kemudian menginap di tempat Lola, kami iseng mampir ke sebuah travel biro di Dortmund untuk mencari informasi tentang paket tour ke Turki. Kalau bisa kurang dari 300 € dan ternyata dapat! Paket seharga 263/orang dari <a href="http://www.1-2-fly.com/">1-2 fly</a> itu sudah meliputi tiket pesawat Jerman – Turki pp, lalu transfer ke dan dari bandara Dalaman ke Turunç, hotel selama 7 malam termasuk makan pagi, siang dan malam.</p>
<p>Sebentar, di mana itu Dalaman dan Turunç? Osman Tekeli dari <a href="http://www.sunfly-reisecenter.de/">Sunfly Reisecentre di Dortmund</a> dekat rumahnya Lola yang „melayani“ kami menunjukkan petanya. Ternyata <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalaman">Dalaman</a> dan <a href="http://www.turunc-village.com/aboutturunc.htm">Turunç</a> terletak di teluk dekat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aegean_Sea">Laut Aegean</a>. Berseberangan dengan Yunani. Kota besar yang ada dekat situ adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marmaris">Marmaris</a> dan<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/%C4%B0zmir"> Izmir</a>. Wah, semakin bersemangat. Apalagi melihat pantainya indah sekali: warna biru turkish dengan kontras tebing-tebing batu di tepinya. Tak jauh dari situ juga katanya ada reruntuhan kota tua <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Amos_%28ancient_city%29">Amos</a>. Wah! Setelah berpikir sejenak, kami langsung mengambil paket tersebut. Selanjutnya, kejutan banyak terjadi. Tiket pesawat ternyata sudah termasuk rail and fly, jadi kami bisa naik kereta gratis ke dan dari airport dan bisa naik kereta ICE yang super cepat itu tentunya. Untuk saya ini menguntungkan, karena saya jadi bisa menghemat biaya kereta yang harga normalnya bisa mencapai lebih dari 100 € sekali jalan. Maka, pergilah kami.</p>
<p>Berangkat pagi-pagi dari Bayreuth. Janjian ketemu Lola langsung di Düsseldorf Airport. Perjalanan panjang untuk saya, karena perlu waktu sekitar 5 jam lebih untuk sampai ke Düsseldorf Airport, kemudian akan dilanjutkan dengan penerbangan ke Dalaman selama 4 jam, lalu transfer dari Dalaman ke Turunç sekitar 3 jam. Kami tiba 2 jam sebelum take off, tetapi counter check in <a href="http://www.tuifly.com/de/index.html">TUI Fly</a> sudah penuh oleh antrian panjang orang-orang yang juga mau pergi ke Dalaman. Ternyata banyak yang mau pergi liburan dan pulang kampung juga. Tiba giliran kami, kami sudah menyangka akan ada sedikit masalah dengan service passport kami yang memang agak-agak aneh dan tidak terlalu dikenali di Jerman. Belum lagi tiba-tiba komputer si petugas mendadak tidak mau diajak bekerja sama. Jadi kami berada cukup lama di check in counter.</p>
<p>Setelah urusan di sana beres, kami menyempatkan diri membeli dulu croissant dengan harapan dapat mengganjal perut dulu sebelum terbang. Ternyata tidak bisa juga. Melewati pemeriksaan pertama, saya sempat diminta membongkar kembali ransel saya, karena dicurigai ada spray. Itu spray asthma yang saya bawa untuk berjaga-jaga, walaupun tidak saya pakai juga. Lola juga membawa spray yang sama, tetapi dia untungnya tidak kena. Hehehe.</p>
<p>Setelah melewati “screening” pertama, pemeriksaan passport kembali menjadi masalah. Kami sampai menjadi orang yang terakhir diperiksa, padahal waktu boarding sudah hampir habis. Ya, lagi-lagi soal si biru yang aneh dan tidak dikenali. Berdasarkan pengalaman saya yang selalu mendapat masalah dengan si biru setiap kali masuk dan keluar Jerman, maka berilah mereka “peringatan” terlebih dahulu, bahwa passport itu “bermasalah”, jadi kita tidak akan terlalu “dijuteki”, hehe. Dengan tampang dan intonasi yang lurus, Lola bahkan mendapat ucapan selamat berlibur dari petugasnya.</p>
<p>Bernafas lega setelah akhirnya bisa duduk di pesawat beberapa saat sebelum take off. Cukup penuh. Kami duduk terpisah. Saya duduk dengan salah seorang perempuan Turki dengan anaknya yang masih berumur 2 tahun. Mereka mau pulang kampung. Cukup menyenangkan. Bisa ngobrol-ngobrol dan tanya-tanya tentang Turki. Namun, jadinya saya yang sudah capek dan lapar berat tidak bisa tidur juga, karena anak-anak kecil di sebelah, di depan dan di belakang saya bermain dengan riang gembira. Tak apalah, sekali-sekali. Lagipula si Muçteba ini lucu sekali, langsung menempel saja pada saya.</p>
<p>Pelayanan dari TUI Fly pun cukup bagus. Saya tidak menyangka, kami akan mendapat makan siang juga. Jam 19:30 waktu Turki, pesawat mendarat di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dalaman_Airport">Dalaman Airport</a> yang cukup besar. Untuk meyakinkan diri, kami menuju counter visa, walaupun dari keterangan yang kami baca, pemegang service paspor dari Indonesia tidak memerlukan visa untuk masuk ke Turki. Susah payah mengerti dan berkomunikasi dengan petugas yang tetap menyebutkan bahwa kami perlu visa dan harus membayar 25 US $. Namun, katanya, karena dia tidak punya stempel visa dengan besaran 25 $, hanya yang 20 $ dan 30 $, maka kami harus membayar 30 $.</p>
<p>Tidak terima dengan logika yang aneh ini, kami kemudian bertanya ke petugas imigrasinya. Beruntung mereka mau memperjelas dan menanyakan status passport kami. Setelah menunggu beberapa lama, sambil terheran-heran karena si petugas malah ngobrol dengan rekannya, paspor kami dicap dan kami bisa masuk Turki tanpa visa dan tentu saja, tanpa bayar. Sama seperti haknya orang-orang Inggris, hehe. Setelah mengambil bagasi yang tinggal tersisa punya kami berdua, kami keluar menuju shelter tempat shuttle bus yang akan membawa kami ke Turunç, tepatnya ke Hotel Özcan tempat kami akan menginap. Sudah lepas maghrib saat shuttle bus berangkat, jadi tidak terlalu bisa melihat-lihat pemandangan di luar. Capek, tapi tidak bisa tidur juga, lagipula lapar sudah mulai mendera. Makan di pesawat hanya sekedar mengganjal saja. Melewati Marmaris yang ramai oleh turis-turis yang duduk-duduk di bar, café dan restoran, dan banyak juga yang jalan-jalan, saya merasa sedang melewati jalan-jalan yang penuh turis di Bali, hehe. Suasana liburan sudah terasa. Lima orang Jerman yang ada di shuttle bus sudah sibuk berkomentar, ada 4 orang Asia termasuk kami cuma senyam senyum saja.</p>
<p>Melewari Marmaris menuju Turunç, jalanan mulai menanjak dan berbelok-belok cukup tajam, kemudian menurun dan masih berbelok-belok pula. Walaupun gelap, tapi pemandangan ke bawah bagus sekali. Lampu-lampu berkelap-kelip. Wah, jadi tak sabar menunggu perjalanan siang hari. Pasti indah juga. Sebelum sampai ke hotel, kami dibagikan peniti kecil dengan gantungan <em>nazar boncuğu</em> (<em>lucky eye</em> atau <em>evil eye stone</em>) berwarna biru muda dengan “mata biru tua”, yang dalam budaya dan adat Turki dipercaya sebagai pelindung dan pembawa keberuntungan. Saya mendapat gantungan dengan tambahan bunga. Nanti di Marmaris saya juga mendapat peniti lagi dengan <em>nazar boncuğu</em> dan kupu-kupu.</p>
<p><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0327.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-668" title="nazar boncuğu" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0327.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><a href="http://www.ozcanhotel.com.tr/yeni/eng/index.html">Hotel Özcan</a> tempat kami menginap terletak di tengah desa Turunç. Hotel ini cukup besar dengan interior bangunan didominasi kayu berwarna coklat. Tampaknya masih memakai gaya Turki jaman Attaturk. Kamar tidurnya cukup luas dan bersih, dilengkapi TV, telfon, lemari es kecil, safety box dan AC! Duh, langsung merasa ada di Indonesia begitu memasuki kamar ini.  Setiap kamar memiliki balkon dilengkapi dengan dua kursi, meja dan jemuran pakaian. Jadi kami bisa mencuci sendiri juga, hehe. Kamar mandi cukup bersih. Kami sempat terkejut melihat hair dryer nya yang tak biasa kami jumpai: satu kotak kecil dengan “belalai” panjang. Pelayanan di hotel ini cukup memuaskan. Selain itu, di hari-hari berikutnya kami tahu bahwa makanannya juga cocok dengan lidah dan selera kami. Kerjasama hotel ini dengan 1-2 fly yang mengatur perjalanan kami dari da ke Jerman juga baik sekali, sehingga kami tidak mengalami kesulitan apapun (bahkan tidak perlu ribet-ribet mikir, hehe).</p>
<div id="attachment_671" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/c3b6zcan.jpg"><img class="size-medium wp-image-671" title="özcan" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/c3b6zcan.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Lobby Hotel Özcan</p></div>
<p>Karena kami tiba cukup larut, sekitar pukul 23, kami sudah tertinggal waktu makan malam. Sekalian mencari makan malam, kami melihat-lihat desa Turunç yang kecil dan tampaknya didominasi oleh turis-turis Inggris. Di sebelah hotel ada supermarket dan di depannya ada mesjid. Tak jauh dari sana berjejer tempat makan dan toko-toko souvenir. Dokter dan warnet juga tak jauh dari situ. Semua berkumpul dalam satu jalan saja. Here we are, tampaknya in the middle of nowhere lagi nih, hehe. Namun, tampaknya semua menyenangkan :)</p>
<div id="attachment_673" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/mesjidturunc1.jpg"><img class="size-medium wp-image-673" title="mesjidturunc" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/mesjidturunc1.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Mesjid di depan hotel Özcan</p></div>
<p>Memutuskan makan di sebuah restoran. Sudah hampir tengah malam saat itu, tetapi kami masih dilayani dengan ramah sambil tentu saja ditanya-tanya kami berasal dari mana, dll. Kami dibilang orang Indonesia pertama di Turunç. Mengingat desa ini kecil dan tampaknya orang-orang yang datang ke sana juga tamu “tetap” sehingga sudah saling mengenal, jadi mungkin apa yang dikatakan benar juga, hehe.</p>
<p>Kami memesan stuffed mushroom dan beef kebab untuk berdua, karena porsinya memang besar. Lola memesan “Efes”, bir dari Turki dan saya orange juice segar. Selesai makan dengan nikmat, kami kembali ke hotel, bersiap-siap istirahat. Pfui, perjalanan yang cukup panjang. Besok kami hanya akan bersantai dan melihat-lihat Turunç saja. Lola sudah mau berjemur dan saya mau berburu objek foto.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/667/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=667&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/25/menyusuri-aegean-1turunc-hosgeldiniz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0327.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nazar boncuğu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/c3b6zcan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">özcan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/mesjidturunc1.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">mesjidturunc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Geschwister Scholl: Sebuah Semangat</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 00:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alltag]]></category>
		<category><![CDATA[Deutsch]]></category>
		<category><![CDATA[Filme]]></category>
		<category><![CDATA[Leben]]></category>
		<category><![CDATA[Person]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Geschwister Scholl (Scholl Bersaudara) mungkin menjadi salah satu nama jalan, tempat atau nama sekolah yang paling banyak ditemui di di Jerman. Nama ini diberikan untuk menghormati kakak beradik Hans dan Sophie Scholl yang dikenal karena keanggotaan mereka dalam kelompok Weiße &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=650&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Geschwister Scholl (Scholl Bersaudara) mungkin menjadi salah satu nama jalan, tempat atau nama sekolah yang paling banyak ditemui di di Jerman. Nama ini diberikan untuk menghormati kakak beradik Hans dan Sophie Scholl yang dikenal karena keanggotaan mereka dalam kelompok Weiße Rose „Mawar Putih“, salah satu perkumpulan mahasiswa di München yang selama masa Perang Dunia II aktif menentang gerakan Nationalsozialismus dengan menyebarkan pamflet dan selebaran berisi protes dan perlawanan terhadap perang dan kediktatoran Hitler,</p>
<p>Hans dan Sophie adalah anak kedua dan ketiga dari keluarga Scholl. Hans lahir tanggal 22 September 1918 sedangkan Sophie lahir tanggal 9 Mei 1921di daerah sekitar Ulm. Seperti layaknya remaja masa itu, mereka pun masuk ke dalam organisasi pemuda di bawah Nazi yaitu Hitler Jugend dan Bund Deutscher Mädel. Bahkan Hans termasuk salah seorang anggota yang aktif dalam Hitler Jugend sampai dengan perkenalannya –kemudian menjadi anggota- dengan kelompok das Ulmer Volk yang didirikan oleh Max von Neubeck yang bersifat lebih „kiri“. Hans kemudian menjadi anggota, diikuti oleh Sophie, selanjutnya keduanya aktif menentang Nazi.</p>
<p>Peran aktif mereka dalam menentang Nazi semakin mendapat tempat saat mereka berkuliah di Ludwig Maximilian Universität München. Hans berkuliah kedokteran, sedangkan Sophie mengambil jurusan biologi dan filsafat. Di München inilah mereka bergabung dengan beberapa mahasiswa lain yang juga memiliki kegelisahan dan tujuan yang sama yaitu menentang Nazi dan menuntut kebebasan, keadilan serta kemandirian dalam berpikir dan bertindak. Mereka kemudian mendirikan perkumpulan „Weiße Rose“ atau Mawar Putih yang awalnya dimotivasi oleh kepercayaan mereka pada agama Kristen dan dalam perkembangannya diperkuat oleh kemarahan mereka terhadap deportasi dan perlakuan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan lawan-lawan politik Hitler.</p>
<p>Hans dan Sophie Scholl sendiri dididik dalam keluarga yang liberal dan sosialhumanis. Sastra, seni dan musik menjadi bagian dari masa kecil mereka. Faktor ini juga yang semakin memperkuat tekad mereka melawan kediktatoran Hitler saat itu. Gerakan perlawanan ini semakin menguat setelah Hans Scholl, Alexander Schmorell dan Willi Graf kembali dari penempatan mereka di Polandia pada tahun 1942 dan di sana menyaksikan pembunuhan massal serta penderitaan orang-orang Yahudi di ghetto di Warsawa</p>
<p>Para mahasiswa itu melawan dengan cara menyebarkan pamflet dan selebaran di kampusnya. Sayang, pada tanggal 18 Februari 1943 saat Hans dan Sophie Scholl sedang menyebarkan selebaran di hall kampus LMU, mereka tertangkap oleh pengurus kampus dan diserahkan kepada Gestapo. Tanggal 22 Februari 1943 mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati dengan guillotine dilakukan hari itu juga di penjara München-Stadelheim.</p>
<p>Hari-hari terakhir kedua bersaudara ini, terutama tentang Sophie Scholl, diangkat ke layar lebar dalam film berjudul „Sophie Scholl – die letzten Tage“. Film ini mendapatkan banyak perhargaan dalam berbagai festival film internasional dan dimainkan dengan sangat apik oleh Julia Jentsch, yang berperan sebagai Sophie. Tak heran dari perannya ini Jentsch dianugerahi gelar aktris terbaik dalam Festival Film Berlin tahun 2005.</p>
<p>Saya masih dapat mengingat adegan-adegan dalam film ini saat Scholl bersaudara menebarkan selebaran di hall LMU, kemudian keduanya tertangkap dan dibawa ke pengadilan. Dalam pembelaannya, Sophie berkata di depan majelis hakim „Di mana kami berdiri sekarang ini, di sini pula kalian akan berdiri tak lama lagi.“</p>
<p>Saya juga masih ingat bagaimana dalam film ini tokoh Sophie Scholl berusaha menjaga sikapnya untuk tetap tenang saat dibawa ke sebuah ruangan untuk menuliskan testamen terakhirnya. Di ruangan itulah dia tahu, bahwa orang tuanya datang menjenguk untuk memberikan dukungan. Sophie kemudian dibawa masuk ke sebuah sel, di mana Hans dan Christoph Probst –salah seorang teman seperjuangan mereka yang juga tertangkap- sudah menunggunya. Mereka kemudian merokok bersama untuk terakhir kalinya, kemudian berpelukan. Sophie dibawa lebih dulu, disusul oleh Hans yang masih sempat meneriakkan kalimat „Hidup kebebasan!“ sebelum dijatuhi guillotine.</p>
<p>Minggu lalu saya beruntung dapat mengikuti simposium yang mengambil tempat di gedung tempat kejadian bersejarah ini terjadi. Saya beruntung dapat berada di hall tempat kedua bersaudara ini berlari ke sana ke mari menyebarkan selebaran perlawanan. Hall yang hening dan megah. Di sana dipasang patung Sophie Scholl setengah dada. Patung yang selalu diberi bunga mawar putih oleh orang-orang yang datang ke sana. Di sebelah patung ini juga ada semacam tugu kecil tempat orang juga meletakkan vas bunga yang diisi bunga mawar putih yang terus diganti. Di tempat ini, tepatnya di bawah tangga, dibuat museum kecil tentang gerakan Weiße Rose. Tempat ini dulunya adalah tempat berkumpul para mahasiswa penentang ketidakadilan. Saya juga beruntung bisa berada di halaman depan pintu utama gedung universitas tua sarat sejarah bernama latin Vniversitas Lvdovic Maximona Censis, yang di lantai berbatu halamannya diberi tanda dari batu berupa „selebaran-selebaran“ kelompok Weiße Rose ini. Berada di sana, ingatan saya melayang kepada adegan-adegan menyentuh penuh semangat dalam film Sophie Scholl tadi dan pada dua bersaudara yang terus berjuang sampai akhir hidup mereka untuk sebuah keadilan dan kebebasan, yang mereka sendiri tidak sempat merasakannya.</p>

<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0145/' title='IMG_0145'><img data-attachment-id='652' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0145.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0145" title="IMG_0145" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0152/' title='IMG_0152'><img data-attachment-id='653' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0152.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0152" title="IMG_0152" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0153/' title='IMG_0153'><img data-attachment-id='654' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0153.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0153" title="IMG_0153" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0156/' title='IMG_0156'><img data-attachment-id='655' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0156.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0156" title="IMG_0156" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0157/' title='IMG_0157'><img data-attachment-id='656' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0157.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0157" title="IMG_0157" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0158/' title='IMG_0158'><img data-attachment-id='657' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0158.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0158" title="IMG_0158" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0172/' title='IMG_0172'><img data-attachment-id='658' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0172.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0172" title="IMG_0172" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0178/' title='IMG_0178'><img data-attachment-id='659' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0178.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0178" title="IMG_0178" /></a>
<a href='http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/img_0205/' title='IMG_0205'><img data-attachment-id='651' data-orig-size='4000,3000' data-liked='0'width="150" height="112" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0205.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_0205" title="IMG_0205" /></a>

<p>Minggu lalu, hujan dan dingin di luar. Geschwister Scholl Platz, di mana LMU berada, sudah dipenuhi ratusan orang yang bergerak menuju pusat kota. Ada demonstrasi besar-besaran menentang dan menuntut penutupan seluruh reaktor nuklir di Jerman: demi keadilan dan kebebasan dunia dari bahaya nuklir. Kepala boleh terpenggal, tetapi semangat untuk bergerak mencari keadilan dan kebebasan akan selalu ada. Di sana: di kampus.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/650/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=650&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/06/05/geschwister-scholl-sebuah-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0145.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0145</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0152.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0152</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0153.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0153</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0156.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0156</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0157.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0157</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0158.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0158</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0172.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0172</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0178.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0178</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/06/img_0205.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0205</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#5: Adéu, Catalunya!</title>
		<link>http://dianekawati.wordpress.com/2011/04/05/5-adeu-catalunya/</link>
		<comments>http://dianekawati.wordpress.com/2011/04/05/5-adeu-catalunya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 00:10:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alltag]]></category>
		<category><![CDATA[Leben]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Reise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianekawati.wordpress.com/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun tidur subuh, paginya bangun dengan cukup segar. Mungkin karena tidurnya nyaman juga. Mengurus administrasi dengan Abdiel sambil sarapan sangat santai. Kami tidak terburu-buru. Lagipula bis kecil ke Ordino datang satu jam sekali, dan bis yang akan membawa kami ke &#8230; <a href="http://dianekawati.wordpress.com/2011/04/05/5-adeu-catalunya/">Weiterlesen <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=639&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Walaupun tidur subuh, paginya bangun dengan cukup segar. Mungkin karena tidurnya nyaman juga. Mengurus administrasi dengan Abdiel sambil sarapan sangat santai. Kami tidak terburu-buru. Lagipula bis kecil ke Ordino datang satu jam sekali, dan bis yang akan membawa kami ke Girona juga berangkat sore hari jam 17. Jam 12 baru keluar hotel, setelah pamitan yang “hangat” pakai acara peluk cium pipi kiri kana pula dengan si Abdiel, hehe.</p>
<p>Sampai di Andorra la Vella, menyimpan tas dulu di locker Estacio de Busosnya, lalu kami melanjutkan jalan-jalan di seputaran Andorra la Vella. Ada taman yang indah di dekat Estacio de Busos dan jalan di pinggir sungai yang dipenuhi bunga-bungan sakura yang sedang mekar. Indah!! Foto-foto tentu tidak dilewatkan. Menyusuri jalan di pinggir sungai menuju pusat kota, mengambil beberapa foto.</p>
<p><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/sakura1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-640" title="Sakura1" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/sakura1.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Di tengah kota ternyata sedang ada pasar loak filateli dan pin. Melihat-lihat sebentar, lalu kami melanjutkan lagi perjalanan ke sisi kota yang lain. Pusat pertokoannya. Andorra memang terkenal sebagai pusat belanja. Namun, tentu saja kami tidak masuk ke toko apapun, hehe. Yang terjadi malah kami berdua kok mencium wangi-wangi masakan. Dua orang ini memang indera penciumannya langsung bekerja dua kali lebih cepat jika ada wangi makanan, bahkan membayangkan wanginya saja kami bisa, hihi.</p>
<p><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/dsc_0039.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-641" title="DSC_0039" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/dsc_0039.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Jadi, kami mengikuti wangi itu (kok jadi berasa seperti anjing ya yang mengendus-endus bau, hihi) dan sampai di salah satu restoran yang dalam daftar menunya menyediakan menu khas Katalonia. Wah, ini harus kami kunjungi. Apalagi menu paket makan siang seharga 9,50 € per orang yang terdiri atas makanan pembuka, utama dan penutup. Duh, ini super murah.</p>
<p>Masuklah kami ke restoran bernama La Taberna del Mallol ini. Ruangan restoran ini nyaman sekali. Ruang didominasi warna putih dengan sentuhan warna marun. Kami mengambil tempat di pojokan dan segera dilayani dengan ramah pula oleh ibu-ibu –tampaknya- pemiliknya. Tidak banyak tamu yang datang saat itu. Mungkin karena belum waktunya makan siang. Sepertinya jam makan siang di Andorra sama seperti di Spanyol, agak telat.</p>
<p>Saya memesan salad dan ikan trout a la Andorra (kita lihat seperti apa), sedangkan Lola memesan sup dan Llom. Tentu saja Sangre de Toro, wine dari Catalunya, dipesan oleh Lola. Harus dicoba dong. Saya sendiri memesan coke.</p>
<p>Ternyata, makanan pembuka yang kami pesan itu porsinya cukup besar. Salad dalam piring cukup besar, begitu juga supnya. Namun, kami memang perlu energi ekstra karena harus menempuh lagi 3 jam perjalanan kembali ke Girona. Menu utama datang, ikan trout a la Andorra adalah ikan yang digoreng dengan sedikit tepung dan di atasnya ditaburi bacon yang dipotong kecil dan digoreng kering, ditambah Pommes Frites. Karena saya tidak memakannya, maka baconnya saya berikan Lola yang selama perjalanan kali ini hampir setiap hari makan Llom, hehe.</p>
<p><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/04/dsc_0051-e1304296535837.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-646" title="DSC_0051" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/04/dsc_0051-e1304296535837.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/dsc_0057.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-642" title="DSC_0057" src="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/dsc_0057.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Puas dan kekenyangan menikmati menu masing-masing, kami kaget ketika ditawari makanan penutup. Oalah, mana bisa masuk lagi? Perut sudah kenyang sekali. Namun, ini kan sudah termasuk paket. Nah lho! Akhirnya dengan komunikasi yang lagi-lagi aneh, karena kami berbahasa Inggris dan si ibu serta pelayan restorannya memakai bahasa Katalanis, dan tentu saja karena mencari aman dan gampangnya. Sebenarnya kami memesan buah segar, tapi yang datang ternyata 1 mangkuk buah segar dan 1 mangkuk Flan caramel. Ini salah pengertian, karena di awal saya menunjuk Flan caramel ini, tapi kemudian membatalkannya dan menggantinya dnegan buah. Ternyata mereka tetap menganggap saya memesan Flan caramel itu. Akhirnya Lola makan buah segarnya  untuk mengimbangi makanan berat sebelumnya dan saya makan Flan caramelnya, karena sebelumnya saya sudah makan salad. Kalori! Tapi biarin lah, hihi, lagipula Flan-nya enak.</p>
<p>Sempat agak ragu juga takut harganya tidak sesuai dengan paket, karena uang tunai kami sudah tidak cukup dan berharap bisa membayar pakai kartu kredit. Ternyata bisa dan harganya –di luar minuman- benar 9,50 € per orang. Wah! Untuk makanan selengkap dan rasa seenak itu, ini harga benar-benar murah. Kami memang beruntung :)</p>
<p>Inginnya istirahat sebentar setelah selesai makan itu, tapi kami masih harus naik bis ke Girona. Dan ups, kami tidak tahu jalan ke Estacio de Busosnya, hihi. Mengandalkan intuisi lagi kira-kira kami ada di mana dan kami harus berjalan ke arah mana. Untungnya Andorra la Vella memang cuma segitu-gitu saja besarnya, jadinya cukup mudah juga menemukan jalan ke Estacio de Busos. Patokan saya adalah sebuah tempat penyewaan mobil dan salah satu hotel.</p>
<p>Sampai tepat waktu, masih sempat ke toilet dulu, dan masuklah kami ke bis kecil yang akan membawa kami ke Girona. Penuh juga bis-nya. Sopirnya ramah. Dia menyangka Lola dari Filipina, karena namanya Maria, hehe. Perjalanan melewati pegunungan Pyrenees yang indah itu dimulai lagi, dan saya tampaknya “mabuk” darat lagi, karena pusing lagi seperti saat datang ke Andorra. Heran nih, biasanya juga tahan-tahan saja saat naik mobil. Sementara Lola masih bersemangat cerita, saya sudah teler berat dan akhirnya tidur. Lola juga akhirnya tidur sih, hehe.</p>
<p>Bis mampir dulu ke Aeroport Girona dan penumpang yang lain turun di sana, kecuali kami berdua yang akan turun di Estacio de Busosnya Girona. Tak lama, sampai juga. “Adéu, Señorita,” kata sopirnya, hehe. “Adéu”.  Estacio de Busosnya ada di depan stasiun kereta api Girona.</p>
<p>Dan kami mulai lagi membiasakan diri lagi dengan “sistem” Spanyol. Kami mencari loket penjualan tiket bis, karena besoknya saya harus ke Aeroport Girona dan Lola ke Aeroport Barcelona. Logikanya pasti loketnya dekat situ. Memang dekat, tapi agak tersembunyi juga. Ternyata tidak ada loket yang buka dan tidak ada informasi tentang jadwal keberangkatan bis. Jadi ya sudahlah.</p>
<p>Setelah mengambil uang, kami naik bis ke arah Salt yang haltenya untung tidak jauh dari situ. Tahu harus berhenti di Espai Girones, tapi di mana kah itu? Hehe, jangan tanya. Petunjuk yang ada dalam bis juga membingungkan, karena kami tak bisa membacanya dan tidak ada petunjuk halte apa yang akan dilewati. Maka, berdasarkan pengalaman: berhentilah di halte terakhir. Tanya ke sopir juga percuma, lha wong bahasanya ngga ngerti, hehe. Dan pengalaman adalah guru yang terbaik, benar saja halte terakhir adalah Espai Girones, dan nama hotel Sidorme tempat kami akan menginap sudah terpampang jelas di depan mata. Syukurlah, hehe.</p>
<p>Hotel ini yang harganya paling mahal di antara hotel-hotel tempat kami menginap sebelumnya yang di bawah 20 €, ini 21 € dan masih murah untuk ukuran hotel seperti Sidorme. Ya, letaknya memang di pinggir, tapi tak apa. Pusat perbelanjaan dan halte bis dekat situ juga, jadi bisa mudah mencari dna pergi ke manapun sebenarnya. Lagipula kami cuma semalam menginap di sana.</p>
<p>Simpan barang dan cari makan malam. Btw, kayaknya perjalanan kali ini isinya makan-makan terus ya? Atau tepatnya saya menulis tentang makan-makannya terus, hehe. Yah, pokoknya kami masuk ke mall Espai Girones yang mungkin “hanya” sebesar BIP, hehe. Suasananya mirip mall-mall di Bandung, tapi tentu kalah mewah dibandingkan mall-mall di Jakarta. Daerah ini tampaknya daerah imigran, karena kami perhatikan banyak orang-orang dari Afrika Utara di daerah ini.</p>
<p>Jalan-jalan keliling dulu, baru kami memilih salah satu tempat makan di foodcourt lantai 3 mall itu. Pesan menu paket lagi, kali ini bukan paella, tapi&#8230;Lola beli Llom lagi dan saya ayam lagi, hahaha. Puas puas deh makan Llom dan ayam. Bukan karena apa-apa, ini semata karena hanya Llom dan ayam yang kami mengerti, dan itu pun setelah melalui komunikasi yang memakai seluruh anggota tubuh dan segala macam daya dan upaya, hihi.</p>
<p>Selesai makan, kami mau mencari roti atau croissant dan air untuk sarapan, karena harga 21 € tidak termasuk penginapan. Masuk ke supermarket di bawah, ambil air dan croissant. Dan terjadi lagi kejadian lucu karena masalah bahasa. Kasir mengambil croissant kami sambil ngomong blablablabla lalu dengan santai membuang croissant yang akan kami bayar tadi. Hah? Ada apa ini? Kami bengong. Jadi kami hanya perlu membayar 45 cent untuk air mineral, sedangkan croissant tidak kami bayar. Iyalah, croissantnya dibuang, hihi. Keluar dari situ masih terkaget-kaget dengan kejadian croissant yang dibuang itu setelah itu kami ketawa-ketawa ngga jelas. Terus terang, sampai sekarang saya masih tidak tahu kenapa croissant itu dibuang, padahal belum masuk kadaluarsa.</p>
<p>Akhirnya kami keliling-keliling mencari cafe yang masih buka dan berharap bisa membeli croissant untuk dibawa pulang. Ternyata ada juga. Pfui! Selamat lah, hehe. Pulang ke hotel, Lola masih melanjutkan pekerjaannya, sementara selesai mandi saya masih membaca 1 jurnal lalu tidur. Esok pagi saya harus pergi cukup pagi ke Estacio de Busos dan lanjut ke  Aeroport  Girona. Sementara Lola masih bisa tidur agak lama, karena dia baru akan berangkat agak siang ke Aeroport Barcelona.</p>
<p>Ah, tidak terasa sudah harus kembali lagi ke Jerman. Masih betah sebenarnya di Spanyol, tapi kembali ke Jerman juga menyenangkan. Setelah hampir seminggu ditinggalkan, membayangkan tidur di kamar sendiri di bawah selimut hangat nyaman juga.</p>
<p>Tampaknya dua Doktorandinnen ini memang suka iseng mencari selingan-selingan yang menyenangkan di antara pekerjaan yang semakin lama semakin menumpuk (heran, padahal sudah dikerjakan, tapi tetap saja terlihat numpuk, hihi) dan rangkaian deadlines yang tak menunggu waktu. Jadi, mari kita tunggu selingan yang menyenangkan lainnya ;))</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianekawati.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianekawati.wordpress.com/639/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianekawati.wordpress.com&amp;blog=115424&amp;post=639&amp;subd=dianekawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianekawati.wordpress.com/2011/04/05/5-adeu-catalunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8322a05e98af8573b3c064411a39880?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dianekawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/sakura1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sakura1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/dsc_0039.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0039</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/04/dsc_0051-e1304296535837.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0051</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dianekawati.files.wordpress.com/2011/05/dsc_0057.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0057</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
