Über dian

"Teetrinkerin" and "Aquarian"

Rumah di Seribu Ombak: Berombak dengan Damai

Bild

Baru membaca halaman-halaman awal novel karya Erwin Arnada ini, bayangan saya langsung ikut terbang jauh ke Pantai Lovina, tepatnya di daerah Kalibukbuk, Singaraja Bali. Saya bisa merasakan kembali dengan jelas suasana pantai subuh hari yang sepi, anginnya yang sejuk menyentuh kulit, langit masih cukup gelap yang lambat-lambat disaput sinar memerah, ombak berdebur pelan mendamaikan hati yang juga sejuk diiringi mekidung yang dikumandangkan dari pura agung di belakang saya dan gema adzan subuh dari mesjid tak jauh dari pura.

Saya membaca lagi halaman-halaman berikutnya, masuk dengan tertib ke dalam narasi si aku pencerita: anak laki-laki kelas 5 SD bernama Samihi Ismail. Dia anak seorang perantau dari Sumatera Barat yang sudah berdiam di Singaraja lebih dari 20 tahun. Samihi yang saya imajinasikan dari narasi yang saya baca adalah anak kecil yang kurus dan penyakitan (dia menderita asma dan tak pernah lepas dari inhalernya), penakut (dari takut air sampai takut berbuat salah, takut berbohong sampai takut menjadi anak durhaka), tapi rajin dan pintar. Tipikal. Samihi, yang biasa dipanggil Samii, bersahabat tanpa sengaja dengan Wayan Manik, yang biasa dipanggil Yanik, anak asli Singaraja yang putus sekolah karena tak punya uang untuk melanjutkan sekolah, anak yang ulet, pekerja keras, pemberani dan setia kawan.

Persahabatan yang terjadi antara Samihi dan Yanik terjalin dengan manis di tengah perbedaan yang melatarbelakangi mereka berdua. Samihi adalah dan berasal dari keluarga muslim yang taat, sedangkan Yanik adalah seorang penganut Hindu yang taat. Mereka saling mendukung, menginginkan yang terbaik satu sama lain. Yanik adalah orang yang sangat menginginkan Samihi menjadi juara qiraah, maka dia pun mengenalkan Samihi kepada ahli-ahli mekidung untuk melatih suaranya. Samihi sangat menginginkan Yanik kembali bersekolah, maka dia pun melawan rasa takut dosanya karena mendukung Yanik ikut metajen –sabung ayam, yang dianggapnya judi-, satu-satunya cara yang cepat untuk menghasilkan uang agar Yanik bisa kembali bersekolah.

Persahabatan mereka tidak mulus-mulus saja. Ada banyak trauma dan ketakutan. Ada niat baik yang tentu saja tak selalu bisa diterima dengan baik pula, sehingga berujung pada konflik. Ada curiga, ada percaya. Namun, saya masih bisa menangkap bahwa sahabat adalah tetap sahabat, apapun yang terjadi. Klisenya mungkin: dalam suka dan duka selalu mengharapkan dan berbuat yang terbaik.

Narasi kilas balik dari si aku pencerita dituturkan dengan tenang, tidak menggebu-gebu. Seperti debur ombak di Lovina, tidak besar, tetapi tetap saja orang harus waspada. Namun, saat setting berpindah ke pantai Kuta, narasinya pun terasa lebih menggebu. Saya hanyut, terus terang. Sudut pandang Samihi, seorang murid SD yang sederhana dan neko-neko pun terlihat dari “caranya” yang “begitu saja” saat menceritakan peristiwa pelecehan seksual terhadap Yanik.

Beragam perbedaan “dibenturkan” dengan halus oleh Erwin. Tampaknya dia memang sedang berusaha mencari „harmoni“ dari perbedaan-perbedaan, yang tak bisa dielakkan karena memang sudah ada, dengan cara „membalikkan“ stereotipe yang telah dimunculkan (dengan salah): perantau yang menyatu dengan penduduk desa, orang bule yang justru membawa petaka, bukan hanya „devisa“ atau orang Bali yang berhasil.

Novel ini juga berkisah tentang usaha tokoh-tokohnya berperang sekaligus berdamai dengan diri, tubuh dan pikirannya, melawan sekaligus keluar dari ketakutan, trauma, kemarahan yang sublim, kecurigaan dan prasangka yang muncul karena rasa percaya yang dicerabut tanpa sebab yang jelas. Ketakutan dan trauma akan air yang dialami Samihi menjadi benang merah bagi ketakutan yang lebih besar karena ketidakpercayaan kepada diri, kepada sekitar, kepada orang lain, kepada sistem, kepada hidup yang tidak selamanya indah dan kepada Yang Memberikan Hidup. „Perjuangan“ Samihi dan Yanik untuk itu semua dinarasikan dengan cukup menyentuh dan tentu saja tidak selamanya berujung baik. Berdamai dengan hidup, meminta dan memberi maaf serta menerima bahwa diri dan hidup memiliki batas tentu bukan hal yang mudah. Ketika pada akhirnya Samihi yang pendiam dan penakut berhasil „menaklukan ombak“, Yanik yang pemberani dan menggebu-gebu lebih memilih „berdamai dengan ombak“ . Toh keduanya sama-sama memilih akhir yang „hening“ di antara „seribu ombak“, sebergejolak atau setenang apapun ombak itu. Itu hidup, yang akan „selalu dihadapkan pada hal-hal yang indah dan memilukan.“

Cukup banyaknya kesalahan tipografi dan peletakan tanda baca yang tidak tepat, ternyata tidak cukup mampu menahan air mata saya agar tidak keluar saat membaca kerinduan Samihi kepada Yanik yang sudah menemukan „rumah abadinya“ di „seribu ombak“ Laut Lovina dan seribu pertanyaan yang kadang memang tak perlu dijawab. Seperti laut dan ombak yang juga tetap penuh rahasia.

 „Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama. Mengapa kini kau lari menjauh? Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu“.


Dan kenangan-kenangan saya akan Pantai Lovina dan Kalibukbuk, suasana desanya, penduduknya, dan „rasa“ yang muncul saat saya menghabiskan beberapa hari di sana, kembali menari-nari dengan jelas  saat saya membaca novel ini. Ini Bali yang saya ingin cari saat itu dan saya temukan di sana serta segera memikat saya: “Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.“

Bayreuth, 290312

Quo vadis, pendidikan tinggi Indonesia? – Catatan Iseng dari Sebuah Pembacaan (Bagian 1)

Jadi minggu lalu saya diminta untuk menambah satu bab lagi untuk penelitian saya, yaitu bab yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman, serta satu subbab tentang dinamika norma-norma interaksi dalam konteks interdiskursus institusional dari jaman Orde Baru sampai pasca-reformasi. Ah, ini sebenarnya lebih dari sekedar subbab, semestinya jadi bab baru juga. Mengenai kata „dinamika“ ini juga kami berdebat cukup panjang. Tadinya saya memilih kata perkembangan. Namun, setelah dilihat apanya yang berkembang ya? Norma-norma kok berkembang. Lagi pula perkembangan biasanya konotasinya maju, linear saja, menjadi lebih baik, tetapi ini kan belum tentu. Akhirnya kami bersepakat memilih kata „dinamika“ yang mengacu kepada kata sifat „dinamis“ yang terlihat tidak hanya dari data saya saja, tetapi juga dari perjalanan sejarah institusi (terutama institusi pendidikan tinggi) di Indonesia, interaksi antarmanusianya dan keterkaitannya dengan konteks serta diskursus yang melingkupinya, baik itu sistem dan atau kondisi sosiokultural masyarakatnya. Dalam kata dinamika terkandung unsur gerak yang cepat, ada unsur yang hidup, tidak statis, saling memengaruhi, bisa mundur, kemudian maju lagi, bisa memutar, bisa juga naik atau turun.

Banyak?  Ya, banyak sekali. Terutama karena saya harus mencari literatur dan tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin ada menulis tentang itu yang dapat mendukung pengamatan, pemikiran dan pendapat saya yang secara langsung atau tidak langsung juga menjadi bagian dari institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan di Jerman . Jangan sampai pendapat saya sifatnya subyektif saja, walaupun secara heuristik, etnografis dan dari metode observasi partisipatoris yang saya pilih untuk kajian saya ini, saya „berhak“ (bahkan „harus“) memasukkan deskripsi dan pendapat pribadi saya, tetapi adanya dukungan dari kajian-kajian sebelumnya tentu dapat lebih melegitimasi pendapat saya. Supaya dibilang ilmiah, hehe.

Literatur  tentang Jerman, tidak sulit saya temukan. Sudah banyak penelitian yang membahas tentang institusi pendidikan tinggi di sini, mulai dari sejarahnya sampai ke hal-hal “kecil” seperti cara berpikir dan menulis ilmiah. Tentang Indonesia, agak sulit saya temukan. Tak banyak yang mengkaji tema ini (atau saya yang tidak tahu? Kalau ada yang tahu, boleh dong saya dikasih tahu). Kalaupun ada bentuknya kebanyakan berupa peraturan-peraturan. Bahkan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas Indonesia sampai memiliki laman khusus mengenai peraturan-peraturan ini. Namun, ini lumayan lah, setidaknya saya punya acuan untuk melihat seperti apa sih “kerangka” pendidikan tinggi di Indonesia dilihat dari aturan-aturannya yang berjibun itu, karena kok rasanya pendidikan tinggi di Indonesia (seperti sudah sering saya “omelkan” dalam tulisan-tulisan saya di blog ini) itu “kacau balau” ya. Ini asumsi saya saja,  bisa saja salah, makanya saya ingin kembali ke “kerangka” awal dengan melihat sejarah dan aturan yang menjadi kerangkanya.

Kemudian saya menemukan satu buku berjudul “Kooperation mit Hochschulen in Indonesien” (2003) dari Solvay Gerke dan Hans-Dieters Evers. Buku ini sebenarnya lebih berisi hasil pengamatan dan pengalaman kedua penulis selama menjalankan tugas mereka sebagai lektor Dinas Pertukaran Akademik Jerman di Indonesia, tetapi tetap saja perlu dibaca dengan kritis. Cukup politis memang isinya. Namun, setidaknya saya jadi tahu apa yang „diharapkan“ pihak Jerman terhadap negara-negara partnernya –dalam hal ini Indonesia. „Harapan“ ini menurut saya sebenarnya bisa disikapi sebagai „ancangan“ positif bagi pihak Indonesia, supaya terjalin kerjasama yang sifatnya simbiosis mutualisma, bukannya menjadikan satu pihak menjadi lebih superior dibandingkan pihak lainnya dan pihak lainnya menjadi inferior. Kalau relasinya taksetara begitu, maka tampaknya “kerjasama” ini dapat menjadi „penjajahan“ bentuk baru yang menurut saya lebih mengerikan dari penjajahan “tradisional”, yaitu dengan „menjajah“ isi kepala dan identitas.

Lepas dari itu semua, yang hanya beberapa halaman disinggung dalam buku ini, saya justru jadi banyak „bercermin“ dan mempertanyakan kembali kondisi pendidikan tinggi di Indonesia, terlepas dari kondisi yang sudah berubah dalam kurun waktu 12 tahun dari saat data untuk buku ini diambil. Sampai tahun 2000, ada tiga kategori yang membedakan 76 PTN serta sekitar 1500 PTS di Indonesia. Kategori I yaitu PTN yang menjadi „center of excellence“ (menurut ukuran Indonesia, bukan menurut ukuran internasional, demikian kata si penulis, hehe) yaitu UI, IPB, ITB dan UGM.  Selain alasan sejarah, keempat PTN ini juga dari sisi sarana, prasarana sampai sistem pendidikan dan penelitiannya sudah „lebih“ dibandingkan dengan PTN lain yang masuk kategori II dan III. Ke dalam kategori II ini masuk UNAIR, USU, UNAND, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS, UNUD, dan banyak lagi lainnya (saya mengutip saja apa yang ditulis dalam buku ini). Eh, institusi saya masuk ke mana ya? Kok tidak saya temukan. Mungkin termasuk ke dalam “dan banyak lagi yang lainnya” itu, karena dalam kategori III juga institusi saya tidak ditemukan. Kategori ke III ini adalah PTN yang ada di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (tidak disebutkan di provinsi mana), yang secara kualitas masih sangat jauh tertinggal dari hmm…Malaysia dan Singapura (kenapa bandingannya ini ya? Jauh sekali).

Saya mengerutkan kening, sontak muncul pertanyaan-pertanyaan: apa ukuran pembuatan kategori ini? Sarana dan prasarana nya kah? Kuantitas tenaga pengajar, mahasiswa atau jumlah penelitian yang dihasilkan dan lain sebagainya? Atau dari kualitasnya? Bagaimana mengukur kualitas? Dan seperti biasa, saya juga suka agak defensif jika “terpaksa” membandingkan Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Oke, mari kita lanjutkan dengan kepala dingin, sebagai peneliti yang “baik”, saya “harus” bisa berjarak dan bersikap objektif.

Selanjutnya buku ini membahas tentang organisasi pendidikan tinggi, yang secara sistem sangat mengacu kepada sistem organisasi pendidikan tinggi Amerika. Ini lebih ke masalah organisasi dan gremium yang ada di perguruan tinggi, seperti senat, rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, kemudian fakultas, jurusan, dan unit-unit pelaksana teknis lainnya. Kemudian dibahas juga tentang badan-badan apa saja yang “membantu” institusi pendidikan tinggi di Indonesia, salah satunya Bank Dunia yang sejak tahun 1985 membentuk Inter-University-Centers atau Pusat Antar Universitas (PAU) yang membantu pendirian gedung, laboratorium, perpustakaan dan sarana prasarana penelitian, memberikan beasiswa dan mendatangkan dosen tamu. Tujuan utama dibentuknya PAU ini adalah untuk membina dan memberikan kesempatan untuk studi lanjut bagi dosen-dosen serta lulusan dari universitas-universitas dalam kategori III di atas, menyediakan laboratorium dan alat-alatnya serta membantu membuat jejaring dengan peneliti-peneliti internasional.  Sejauh mana ini berjalan, saya perlu mencari tahu lebih banyak lagi.

Masalah akreditasi, program studi dan lulusannya juga dibahas dalam buku ini. Sekedar informasi, lulusan S1 dari Indonesia, hanya disetarakan dengan tingkat Bachelor di Jerman, walaupun untuk masa studinya sebenarnya bisa lebih dari studi bachelor di Jerman yang memakan waktu 6 semester, sedangkan masa studi S1 di Indonesia secara regular 8 semester (bahkan ada yang sampai 14 semester, saya salah satunya, hehe). Maka seorang sarjana S1 lulusan Indonesia, jika dia berniat meneruskan studi master di Jerman, untuk bidang yang sama dengan studinya di Indonesia, ijazahnya dapat disetarakan dengan ijazah Bachelor. Itu pun biasanya hanya sedikit mata kuliah tertempuh yang diakui. Kalau dia ingin studi lanjut untuk jurusan yang berbeda, maka ijazah S1 nya tidak diakui, dan dia harus mengulang kembali dari studi Bachelor. Oh ya, sebagai tambahan lagi, sistem Bachelor dan Master sendiri di Jerman baru dilaksanakan sekitar tahun 2005/2006, sebelumnya Jerman hanya menganut sistem studi Magister (untuk ilmu-ilmu humaniora dan sosial) serta Diplom (untuk ilmu eksakta dan teknik). Tentang ini sudah pernah saya bahas di beberapa tulisan saya sebelumnya dalam blog ini juga.

Hal yang paling menarik perhatian saya, selain bagian kurikulum, tentunya bagian yang membahas tenaga pendidik di perguruan tinggi, karena saya ada di dalamnya, selain itu fokus kajian saya juga terletak pada interaksi dosen dan mahasiswa. Kalimat dalam paragraf pertama bagian ini langsung menohok saya. Disebutkan bahwa dalam banyak hal, kualitas tenaga pendidik di perguruan tinggi di Indonesia tidak memenuhi standar internasional. Sekali lagi lagi saya bertanya standar yang mana? Dibuat oleh siapa? Rasanya saya cukup banyak mengenal orang-orang yang secara kualitas bahkan lebih “baik” dari tenaga-tenaga pengajar di Jerman (saya sempitkan dengan Jerman, karena di negara lain saya tidak tahu dan ukuran baik atau tidak baik juga relatif). Pertanyaan saya dijawab dalam kalimat berikutnya di bagian ini yaitu sebenarnya ada cukup banyak tenaga-tenaga pendidik yang bagus dan potensial serta memiliki kualifikasi yang tinggi, tetapi mereka seringnya dan biasanya “terjebak” atau –ini istilah saya- “dijebakkan”  dan di(ter)bebani oleh tugas-tugas struktural dan administratif, sehingga ini membatasi ruang gerak mereka untuk mengajar dan melakukan penelitian. Selain itu disebutkan pula bahwa kebanyakan dosen dari PTN juga mengajar di PTS, padahal sebenarnya banyak PTS yang justru memiliki tenaga pengajar sendiri yang kualitasnya juga lebih bagus. Ups!

Sampai di sini saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ini bukan hal yang aneh dan baru sebenarnya, saya sudah tahu itu, karena ini juga terjadi di institusi saya sendiri. Tolong betulkan jika saya salah, karena jauh di lubuk hati saya (duh!) agaknya saya tidak mengharapkan hal semacam ini ditulis dalam buku ini. Saya berusaha mengabaikan dan menolak kenyataan bahwa hal ini hanya menjadi diskusi atau tepatnya misuh-misuh saya dan teman-teman dekat saya saja. Namun, sebagai orang yang sedang berusaha menjadi peneliti yang baik, saya tentunya „harus“ bisa menerima, bahwa kondisi ini juga diamati dan ditulis oleh orang lain, bukan? Saya berusaha objektif. Oke, ini memang kenyataan yang terjadi, ketika banyak tenaga potensial „dikebiri“ dengan dijadikan „tenaga administratif“, yang sebetulnya bagian ini juga bisa dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dan potensial lain di bidang ini. The right man in the right place. Ini yang di(ter)abaikan oleh sistem, diakui atau tidak diakui. Padahal jika mengacu kepada undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, tugas tenaga pendidik adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, bukan melakukan kegiatan administrasi yang sudah menjadi tugas tenaga kependidikan. Jangan-jangan jadinya malah mengambil jatah dan tugas orang nih, hehe.

Tenaga pendidik perguruan tinggi juga terikat pada apa yang disebut tri dharma perguruan tinggi, yang dalam beberapa diskusi sudah diperdebatkan apakah harus dilaksanakan oleh setiap orang atau justru sebaiknya dilakukan oleh universitas secara umum. Pengejawantahannya mungkin bisa dengan cara membagi mana tenaga pendidik yang khusus melakukan penelitian, mana yang mengajar, mana yang memiliki kompetensi administratif dan struktural yang dapat menjembatani pengabdian pendidikan tinggi kepada masyarakat . Saling mendukung dan sinergis antara penelitian dan pengajaran, karena menurut saya tujuan akhir dari semua itu toh untuk diabdikan kepada masyarakat dan untuk kemaslahatan umat (duh, bahasanya nih, hehe). Sayangnya, ini pengamatan subjektif saya saja, ketiga dharma ini diharapkan dilakukan oleh masing-masing tenaga pengajar, tetapi deskripsi „tugas“nya dipisah-pisahkan dengan jelas: meneliti adalah meneliti, mengajar adalah mengajar, pengabdian kepada masyarakat adalah misalnya terjun ke desa-desa. Sempit. Saya suka iseng bertanya: memangnya kalau saya mengajar dengan baik itu artinya saya tidak mengabdikan diri saya untuk masyarakat? Atau saya juga pernah ngedumel, pantas saja ada beberapa penelitian yang mengawang-awang tidak menyentuh bumi, karena tidak dihitung sebagai pengabdian kepada masyarakat sih, hehe. Tolong betulkan ini juga jika pengamatan dan „omelan“ saya salah, karena saya sampai saat ini hanya bisa mengamati institusi saya sendiri, siapa tahu di tempat lain berbeda.

Oke, berhenti di sini dulu deh. Banyak juga. Besok saya lanjutkan lagi dengan tujuan dan tugas pendidikan tinggi yang kemudian diimplementasikan pada kurikulum. Oh ya, curcol juga sebentar,  tampaknya saya masih belum bisa menjadi peneliti yang baik, karena saya masih sering tidak bisa “berjarak” dan “objektif” dengan kajian saya, masih sering terbawa emosi, karena ternyata mengkaji “rumah” sendiri itu seperti mengorek-ngorek luka sendiri: painfull. Salah sendiri ya, milihnya tema beginian, hehehe.

Offside

Di saat orang berpesta pora di luar, di malam pergantian tahun seperti biasa saya memilih menepi dan menyepi. Kebetulan pula saya menonton film Iran yang dibuat tahun 2006 berjudul “Offside”. Film berbahasa Persia dan disutradarai oleh Jafar Panahi ini berkisah tentang anak-anak perempuan yang ingin menonton pertandingan sepakbola antara Iran dan Bahrain. Pertandingan ini adalah pertandingan penentuan babak kualifikasi piala dunia untuk menentukan negara mana yang akan menjadi wakil Asia dalam babak final Piala Dunia di Jerman.

Diawali dengan seorang bapak yang pergi ke stadion untuk mencari anak gadisnya yang kabarnya pergi menonton bola ke stadion, karena di Iran perempuan dilarang menonton sebuah pertandingan di lapangan secara langsung. Akibatnya banyak perempuan penggemar bola berusaha dengan beragam cara untuk menonton pertandingan di lapangan, dari mulai berdandan a la laki-laki, sampai mencuri-curi masuk ke dalam stadion melewati penjagaan dan pemeriksaan yang ketat dari tentara. Film semi documenter ini hampir seluruhnya berisi dialog-dialog antara anak-anak perempuan yang tertangkap dengan para penjaganya. Namun, dialog ini tidak membosankan, karena lewat dialog-dialog ini Panahi menyoroti aspek-aspek sosial kemasyarakatan di Iran, terutama tema-tema seputar dinas militer dan peraturan-peraturan yang mengatur peran perempuan Iran dalam masyarakat. Kritik tajam misalnya dilontarkan salah seorang anak perempuan “tomboy” yang ditahan terhadap si penjaga  yang marah-marah karena menurut si penjaga gara-gara para perempuan-perempuan itu, dia tidak bisa pulang ke desanya dan membantu ibunya menggembalakan kambing dan mengolah ladang. Menurut si anak perempuan, si penjaga seharusnya bisa lebih tegas menolak perintah dan menuntut hak liburnya, karena tugas dia sebagai anak lebih penting. Si anak perempuan kemudian juga “menggugat” mengapa perempuan tidak boleh menonton pertandingan bola di lapangan, yang dijawab oleh si penjaga, karena para lelaki yang ada di lapangan bola itu kasar, suka mengumpat dan itu berbahaya bagi perempuan, yang kemudian “digugat” lagi oleh si anak perempuan, mengapa perempuan boleh berduaan pergi dengan lelaki ke bioskop, padahal justru di sana lebih “berbahaya” lagi. Stereotype tentang perempuan tidak mengerti sepak bola juga disorot di sini, karena ternyata mereka juga tahu teknik-teknik dalam permainan sepak bola, tidak hanya masalah fanatisme dan wajah tampang para pemain bola, ini juga membuat para lelaki penjaga heran. Scene yang cukup menggelitik adalah saat salah seorang anak perempuan ingin buang air kecil, karena di stadion tidak ada WC untuk perempuan, maka  setelah memaksa-maksa akhirnya dia diijinkan ke WC dengan wajah ditutupi poster bergambar wajah salah seorang pemain sepak bola. Si penjaga kemudian mengusir semua laki-laki yang ada di toilter atau yang ingin ke toilet, karena tidak boleh ada yang melihat anak perempuan itu. Demikian juga si anak perempuan diwanti-wanti untuk tidak membaca tulisan apapun yang ada di dinding toilet, karena katanya bahasanya sangat kasar dan tidak pantas dibaca oleh seorang wanita.

Banyak paradoks yang menarik ditampilkan dalam film ini, di satu sisi ada hal-hal “naif” dan “humanis” dari sisi para penjaga, yang notabene juga manusia biasa, laki-laki yang punya ibu, istri dan saudara perempuan. Ada ketidakberdayaan melawan para petinggi dan pimpinan yang juga semena-mena saja terhadap bawahannya. Dan tentu saja “protes” para perempuan yang “ingin disetarakan” dalam hal menonton sepak bola, yang tentu saja menjadi sebagian kecil dari protes terhadap ketidakadilan yang mereka dapatkan.

Di akhir film diceritakan bagaimana anak-anak perempuan itu dan para penjaga mereka bersuka cita bersama saat tim Iran bisa menang 1 – 0 atas Bahrain dan kemudian bisa lolos ke putaran final Piala Dunia di Jerman saat itu. Sepakbola menghilangkan sekat-sekat itu ternyata, semua menyatu dalam kegembiraan yang sama, walaupun sepakbola juga tak lepas dari intrik dan permainan politik.

Film yang penuh kewajaran, tidak meledak-ledak, namun berhasil membuat saya tersenyum di beberapa bagian. Senyum dengan kesadaran penuh, bahwa hidup ini memang paradoksal. Seperti saya yang lebih suka memilih menepi di saat kebanyakan orang tumpah ruah berpesta.

Praha

Kali kedua ke Praha, tak menemui Kafka, tapi Smetana, di tepi Vltava. 8 tahun lalu ruang dibuka oleh Kafka yang merindu rumah. 8 tahun kemudian iringan Smetana memenuhi jiwa. Dan Praha tetap menjadi ensemble klasik, paduan harmonis budaya dan manusianya. Kafka dan Smetana di tepian Vltava, yang membelah Praha. (Bayreuth, November 2003 – Bayreuth, November 2011)

Gadget or no gadget – That’s (not) the question

Bangun tidur, kemudian ngecek email, ada email dari redaksi majalah Femina untuk permintaan wawancara. Gaya banget sih, hehe. Mbak Ficky,redaktur yang baik hati itu sedang membuat tulisan tentang topik seberapa besar ketergantungan kita pada gadget. Jadi senyum-senyum sendiri bacanya dan dengan senang hati saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dia yang sebenarnya sedikit, tapi saya jawab panjang lebar (dasarnya saya memang cerewet, hehe). Maaf, Mbak Ficky ;)

Gadget yang dalam bahasa Indonesia sebenarnya disebut gawai atau acang (ngga enak banget nih kata) adalah “suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gawai dianggap dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya.” Definisi yang abstrak, seperti biasa. Namun, yang jelas gadget ini (saya pakai istilah dalam bahasa Inggris saja, yang umum, karena tadi pertanyaan dalam wawancaranya juga memakai kata gadget bukan gawai atau acang) adalah “a small technological object (such as a device or an appliance) that has a particular function, but is often thought of as a novelty. “ Jadi biasanya lebih sering dihubungkan dengan telefon genggam, smartphone, laptop/netbook, tablets, dll.

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan Mbak Ficky sebenarnya sudah pernah saya tuliskan dalam bentuk lain di blog ini. Namun, waktu berubah, dan ternyata ada beberapa perubahan yang “menyenangkan” saat saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Ficky.

Bisakah hidup sehari saja tanpa gadget? Misalnya phone off. Itu pertanyaan pertama dan langsung saya jawab bisa. Bahkan sering. „Phone“ di sini adalah HP atau smartphone lainnya. Sedikit cerita, pertama kali saya punya HP di tahun 2000 itu atas bujukan teman dekat saya saat itu, dengan alasan agar dia bisa menghubungi saya kapanpun. Itu gantian setelah saya yang awalnya membujuk dia agar punya HP supaya saya bisa menghubungi dia kapanpun, karena dia sering „beredar“. Setelah dia mengabulkan permintaan saya, gantian saya yang malas-malasan beli HP (memang tidak ingin dicari, hahaha). Jadi memang dasarnya saya sudah punya “bakat” tidak mau “terganggu” secara personal dengan barang bernama HP ini. Lama-lama ternyata saya tergantung juga pada barang ini, apalagi saat itu mobilitas saya tinggi sekali dan kadang karena masalah kemacetan atau acara-acara dadakan saya harus mengubah jadwal, mengatur ulang janji, kadang harus membatalkannya. Dulu, HP saya belum saya silent. Gaya banget deh pokoknya, tiap saat ada telfon dan sms masuk. Kemudian tahun 2003 saya ke Jerman sampai tahun 2006, fungsi HP saya berubah drastis. Mulai ada dalam silent mode, hanya saya pakai untuk sms ke Indonesia, yang juga jarang-jarang karena mahal, hehe. Urusan di Jerman sendiri lebih sering menggunakan internet.

Sebenarnya saya sudah mulai mencandu internet dari tahun 1997, semakin lama semakin parah. Tidak apa-apa saya tidak menonton TV atau tidak pegang HP, asal saya tidak lepas dari internet (waktu itu smartphone belum ada). Urusan di Jerman pun –masalah kuliah dan pekerjaan- juga lebih sering dilakukan lewat internet, terutama email. Dan internet juga menjadi penghubung saya dengan rumah. Semacam “pintu ke mana saja”nya Doraemon deh. Ya, saya sangat mencandu internet dan rasanya saat itu tidak bisa hidup tanpanya (lebay, hehehe).

Kebiasaan menyetel HP dalam silent mode itu berlangsung sampai sekarang. Walaupun saya sudah di Indonesia dan HP saya kembali menemukan fungsi utamanya untuk janjian, mengubah jadwal, mengatur ulang janji, dll. Untuk berlama-lama ngobrol di telefon, saya lebih suka menggunakan telefon rumah dan karena saya sudah pernah merasakan hidup sendirian jarang bertemu orang selama tinggal di Jerman , maka saya lebih senang bertemu langsung dengan orang-orang dan berbincang dengan mereka. Dan ini yang terjadi sampai sekarang.

Saat bekerja, HP saya yang selalu dalam silent mode itu selalu saya simpan dalam tas, tasnya saya letakkan di mana, dan saya “beredar” ke mana-mana tanpa HP. Kalau di rumah, HP saya simpan di kamar saya di atas, dan sayanya ada di bawah atau „beredar“ juga ke mana-mana. Kalau sedang di Jerman, saya malah sering bepergian tanpa membawa HP atau membawa HP tapi HPnya mati, karena baterai HP saya sudah „semaput“, hidup segan mati tak mau.

Teman-teman saya sudah maklum dengan kebiasaan saya ini. Jadi biasanya mereka kemudian menghubungi saya lewat telefon rumah. Belakangan kebiasaan „jelek“ saya ini juga bertambah, jika liburan saya sama sekali tidak menyentuh internet dan HP, jadi email dan off message plus account media social yang lainnya pun tidak saya buka. Less contact. Bukan apa-apa, saya hanya ingin menikmati liburan saya dan kesempatan berharga bertemu orang-orang. Ini satu kemewahan untuk saya, yang sehari-harinya dalam beberapa tahun ini jarang bertemu orang dan sibuk sendirian. Di Indonesia kebalikannya, kesempatan bertemu orangnya banyak sekali, dan kesibukan saya juga lebih banyak, jadi memang jarang bisa terkoneksi dengan internet. Di saat-saat begini internet berfungsi sesuai dengan “kodrat”nya, hehe. Menjadi penghubung dengan dunia luar.

Bicara tentang internet, sejak tahun 2008 saya tidak terlalu adiktif lagi. Ada satu kondisi yang membuat saya dibenturkan pada kenyataan bahwa kadang-kadang „too much know will kill you“, hehe. Sudah pernah saya tuliskan juga di sini. Saya mulai mengatur kedekatan saya pada internet. Itulah sebabnya saya bisa “cuek” bepergian dan berlibur tanpa keinginan mengecek email (kecuali memang ada email penting yang saya tunggu) atau update status di social media (untuk yang ini sih sama sekali bukan masalah besar, karena social media untuk saya hanya berfungsi untuk media informasi bukan pribadi).

Bagaimana dengan gadget lain seperti smartphones atau tablets? Ini bisa jadi satu tulisan lagi, hehe. Saya mungkin boleh dibilang ketinggalan jaman, karena tidak (mau) punya smartphones dan tablets. Saat mudik kemarin, banyak orang bertanya mengapa saya tidak punya berry hitam atau apel krowak atau talenan apel, karena saya pasti mampu membelinya (disangkanya tinggal di Jerman itu uangnya banyak mungkin ya, hihi. Amiinn…J ). Saya masih pegang HP jadul keluaran Si Emen di saat hampir semua orang pegang berry hitam atau apel krowak dan talenan apel. Alasannya: HP jadul itu hadiah ultah dari teman saya, dan yang kedua: mata saya bolor sebolor-bolornya, jadi tidak suka dan tidak bisa melihat tulisan yang kecil-kecil begitu, terutama harus mengetik dengan keypad yang kecil-kecil atau menyentuh-nyentuh layar. Karena untuk saya HP dan teman-temannya itu hanya berfungsi untuk sms dan telfon, maka HP jadul saya sudah cukup memenuhi fungsinya (dan saya hanya mengganti baterenya yang dulu sudah semaput, sekarang agak mendinglah, bisa bertahan beberapa lama). Sedangkan fungsi lain dari smartphones dan tablets sudah terpenuhi dengan baik di laptop saya, yang di Jerman ini bisa terkoneksi ke internet dengan mudah di manapun, di Indonesia juga sudah demikian kan. Jadi, saya hanya senyum-senyum saja menjawab pertanyaan tersebut: saat ini saya belum perlu dan saya bisa hidup dengannya (selain karena alasan ideologis dan politis kenapa saya tidak mau menggunakan barang-barang tersebut. Ini lebaynya, jadi tidak usah ditulis di sini deh, hehehe). Seperti juga saya bisa hidup tanpa TV sejak tahun 1997, saya juga ternyata bisa saja hidup tanpa HP dan internet , kalau saya mau. Ini masalah pilihan, seperti saya yang memilih tetap hidup dengan musik, hehe.

Pertanyaan lainnya adalah apa yang dirasakan hidup tanpa gadget tersebut? Sekarang saya bisa menjawab: biasa saja, tidak kehilangan apapun. Mungkin karena dulu pernah ada dalam tahap adiktif, dan sekarang bisa diibaratkan saya sudah merasa cukup. Alasannya sudah saya sebutkan di atas.

Pertanyaan terakhir dari Mbak Ficky adalah berapa lama rekor saya tidak berhubungan dengan gadget sama sekali. Saya jawab 1 minggu. Ya, waktu yang cukup lama untuk orang yang pernah kecanduan gadget tidak berhubungan dengan gadget sama sekali. Dan saya menepuk-nepuk bahu saya sendiri, bangga. Akhirnya saya bisa mengatur diri saya untuk hal-hal yang sifatnya “berlebihan”.

Itu saya, yang suka lebay dan berlebihan. Yang lain pasti punya pengalaman dan pendapat lain. Oke, cuaca cerah di bulan November ini, saya ada kolloquium dan mau lanjut mengambil beberapa gambar. Ah, ternyata sekarang saya punya kecanduan yang lain: saya suka membeli dan mengumpulkan alat perekam. Dari mulai kamera, handycam, perekam suara, microphone, dll. Kacau, hahaha.

(Belajar) Puasa

Bulan Ramadhan di Jerman biasanya bulan saya mendadak „beken“. Bukan karena apa-apa, tetapi karena banyak orang yang bertanya tentang puasa, dari mulai pertanyaan yang murni karena tidak tahu dan ingin tahu seperti mengapa puasa, bagaimana menjalankannya, bagaimana kalau tidak kuat, dll sampai ke pertanyaan yang jawabannya kadang mereka sudah punya sendiri, misalnya puasa itu tidak bagus untuk kesehatan karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi dan cairan sepanjang puasa, sampai ke masalah penyiksaan badan. Saya bukan pakar di bidang agama, belum cukup sholeh dan pintar dalam mengutip ayat-ayat dan hadist lengkap dengan istilah dalam bahasa Arab, jadi saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu semampu logika dan pemahaman saya.  Kalau mood sedang bagus, biasanya saya jawab dengan „bagus“ juga, tapi kalau mood sedang jelek ya tidak saya jawab juga, atau saya jawab pendek agak jutek. Ya, ya, ini penyakit saya. Namun, saya jarang kok menjawab seperti itu, kan sedang puasa, masa jutek sama orang lain sih. Paling saya buat jadi candaan saja. Atau saya sudah „mengancam“ duluan dengan bilang: bosan pertanyaannya begitu  terus, sepertinya saya harus merekam jawaban saya karena dari tahun ke tahun pertanyaannya tidak kreatif, itu terus, jawaban saya juga jadinya tidak kreatif. :)

Jadi, tahun ini kalau dihitung sudah 7 kali saya puasa di Jerman, walau tak berurutan. Pertama kalinya di tahun 1997. Saat itu tak terasa kalau mau dilihat puasa sebagai saat menahan lapar dan haus, karena musim dingin, siang jauh lebih pendek. Matahari baru terbit jam 7.30an dan terbenam jam 16.30an. Lagipula saat itu saya kerja sampai jam 15. Selesai kerja, siap-siap bentar, maghrib deh. Begitu juga tahun-tahun berikutnya, saya masih kebagian puasa di musim dingin. Tahun lalu baru saya „kena“ puasa di musim panas, dan tahun ini juga. Puasa yang „menakutkan“ karena siang yang panjang. Imsak jam 2.30an dan buka jam 21 bahkan 21.30an. Terus terang, awalnya juga saya „takut“ membayangkan apakah saya kuat menahan lapar dan haus selama itu. Selama di Jerman, saat „membayar“ puasa pun biasanya saya lakukan segera saat musim dingin, takut siang keburu panjang. :)

Namun, bicara ketakutan, rasanya saya memang penakut. Dulu pun sempat takut saat pertama kali akan menjalani puasa di Jerman, saat musim dingin. Takut tidak kuat lah karena harus berpuasa pada suhu di bawah nol, takut ngiler lihat makanan ini itu, takut semua.  Perlukah? Ternyata tidak, karena setelah dijalani ternyata puasa ya biasa-biasa saja. Lapar memang, haus memang, tapi rasanya saya malah sering merasa kelaparan dan kehausan berat saat tidak berpuasa. Ah, sugesti saja. Mungkin. Karena otak „memanipulasi“ perut untuk tidak terlalu merasa lapar dan haus. Tergantung niat, kata orang-orang yang mengerti agama. Dan puasa di musim panas, yang tadinya saya bayangkan akan terasa sangat panjang,lama, pokoknya menakutkan, ternyata tidak semenakutkan itu. Entah kenapa juga, dua kali puasa saat musim panas, suhu dan cuacanya juga cukup mendukung untuk tidak merasa terlalu kehausan dan kelaparan.

Itu kalau masalah lapar dan haus. Bagaimana dengan godaan lainnya? Melihat orang bebas makan dan minum di mana-mana? Ternyata tidak berpengaruh juga. Puasa jalan terus. Ngiler? Yah, sedikit, tapi bisa tahan lah. Godaan lainnya? Lihat yang telanjang di sana sini termasuk melakukan „adegan panas“? Lama-lama biasa juga, lagipula tidak harus ikutan bernafsu :). Untuk saya yang paling sulit ditahan itu jutsru nafsu belanja dan urusan mengantuk yang tiada tara. Selain tentu saja nafsu mau marah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hati. Atau nafsu bergossip. Hmm, banyak juga ya? Hehe.

Khusus untuk puasa di musim panas ini, saya baru sadar bahwa mengantuk adalah godaan terbesar saya. Saya yang makhluk nocturnal biasanya tahan begadang sampai subuh dan tidur setelah subuh. Namun, di bulan puasa ini, segera setelah saya berbuka, mata pun langsung terasa dikenai beban seberat beberapa ton. Lebay. Tapi memang sulit sekali untuk bisa tetap membuka mata saat berbuka puasa dan menahan diri untuk tetap terjaga dan sadar bahkan di saat shalat maghrib. Biasanya saya sulit untuk beranjak ke tempat tidur (kalau sudah kena bantal sih saya memang selalu mudah tidur, tapi beranjak menuju tempat bantal itu berada yang sulit), kali ini di mana pun saya bisa jatuh tertidur.

Tadi sore saya diwawancara seorang sahabat untuk sebuah acara di sebuah radio di Jerman (ini wawancara serius walaupun sebelum dan sesudah wawancara acara ngobrol sana sininya lebih banyak), dia bertanya bagaimana cara saya mengatur waktu shalat saat puasa di musim panas ini. Saya terdiam sejenak, iya ya, ini yang sulit untuk saya. Subuh jam 3an, dhuhur jam 13an, ashar jam 17an, maghrib jam 20an dan isha jam 23an. Tarawihnya kapan? Ya pasti setelah isha dong. Bisa sampai jam 24 itu, kalau kebetulan sedang ikut tarawih di mesjid Arab (istilah untuk mesjid yang pengunjungnya kebanyakan dan dikelola orang Arab, bukan orang Turki, tapi orang Indonesia sih enak, bisa ke mesjid mana saja, dan diakui di mesjid mana saja. Tinggal pilih ingin yang cepat atau yang pendek, hehe. Eh, mesjid juga politis lho, walaupun seharusnya tidak  ;) ) yang imamnya sering membacakan surat-surat panjang dan tarawihnya sampai 21 bahkan 23 rakaat. Pulang ke rumah istirahat sebentar sudah siap-siap lagi untuk sahur. Nah lho, tidurnya kapan?

Ternyata untuk saya pertanyaannya jadi terbalik,  bukan lagi bagaimana saya mengatur waktu shalat jadinya, karena shalat ya jadwalnya sudah ditetapkan, dan ingin saya jalankan sesuai waktu. Namun, bagaimana saya mengatur waktu tidur saya. Karena di bulan puasa ini, biasanya saya juga suka mendadak jadi ingin lebih rajin melakukan ritual spiritual saya. Atau jangankan itu lah, untuk „urusan duniawi“ saja, di bulan puasa juga saya tetap harus bekerja dan menyelesaikan urusan ini itu yang seringkali harus dilakukan pagi-pagi jam 8 atau jam 9. Sehabis makan sahur dan buka saya tidak bisa langsung tidur juga, berbahaya untuk kesehatan (ini tentu berlaku untuk setelah jam-jam makan lainnya juga).  Jadi kapan saya tidur, jika saya baru bisa tidur sekitar jam 5 atau jam 6 pagi kemudian jam 8 atau jam 9 sudah berkegiatan sepanjang hari sampai sore, sementara waktu malam yang pendek juga tidak memungkinkan untuk tidur langsung sampai subuh, kecuali kalau mau tidak sahur. Namun, saya bukan tipe orang yang bisa puasa tanpa makan sahur atau dengan cukup minum air putih saja. Tepatnya lagi saya tidak mau, sadar diri saja, perut saya sudah cukup bermasalah, jadi tidak mau mengambil resiko sok kuat tidak pakai sahur, walaupun biasanya saat sahur pun saya masih cukup kenyang, karena jarak dari waktu berbuka ke sahur itu cukup pendek. Akhirnya, saya mencuri-curi waktu untuk tidur di antara waktu dhuhur dan ashar, atau di antara ashar dan maghrib atau di antara maghrib dan isha. Sejam dua jam saja. Tidak cukup kalau mau mengikuti keinginan, tapi daripada tidak tidur sama sekali, waktu ini sudah sangat berharga.

Jadi, masalah utama saya ternyata bukan di saat berpuasa siang hari, tapi justru di saat malam ketika sedang tidak berpuasa lagi. Itu kesulitan utama untuk saya, jika saya ditanya apa kesulitan puasa saat musim panas:  menyesuaikan waktu tidur. Dan makhluk nocturnal seperti saya pun ternyata menyerah juga pada godaan kantuk ini. Ujian terberat untuk saya ternyata bukan pada saat menahan lapar dan haus, menahan nafsu makan dan minum di siang hari, namun menahan kantuk, ya itu tadi, agar saya bisa tetap dalam keadaan sadar saat makan dan minum di waktu berbuka dan di saat shalat, agar saya tidak jatuh tertidur menelungkup di atas piring atau langsung nyenyak saat sujud di waktu shalat.

Ya, tentu saja, puasa bermakna lebih dari sekedar menahan lapar dan haus, begitu pelajaran yang saya ketahui dari orang-orang yang lebih mengerti agama. Puasa katanya juga bermakna pengendalian diri. Dan saya bersetuju dengan itu, sudah disebutkan di atas. Namun, puasa untuk saya juga adalah proses penyeimbangan, lahir dan batin, dengan menahan beberapa hal untuk melakukan beberapa hal lainnya. Dan proses ini, saya tahu, seharusnya tidak hanya terjadi di bulan puasa saja, tetapi –idealnya- di bulan-bulan yang lainnya juga. Tidak mudah, saya sering –dan hampir selalu- gagal.  Lebih dari itu semua, puasa untuk saya juga bermakna syukur. Tidak hanya pada kenikmatan mencecap teh hangat pertama setelah belasan jam tak minum, tapi juga pada kenikmatan bisa memejamkan mata di sela-sela proses penyeimbangan lahir dan batin tadi. Untuk ini, saya harus selalu diingatkan dan mengingatkan diri sendiri, karena saya masih sering juga lupa pada nikmatNya yang bertebaran dalam hidup saya. Termasuk nikmat jadi orang yang mendadak „beken“ di bulan puasa, karena saya pun jadi bisa bertanya lebih banyak pada diri sendiri dan lebih banyak belajar untuk mencari jawabannya. Semoga :)

Belajar Lagi dari Jepang

Dan saya belajar lagi dari sepak bola, bahwa perjuangan detik ke detik, menit ke menit itu bisa membuahkan hasil yang manis. Tidak menyerah, yang penting melakukan yang terbaik setiap saatnya. Mungkin hasilnya bisa seperti yang diinginkan, bisa juga tidak. Namun, itu masalah lain, yang penting adalah terus berusaha. Dan saya belajar dari perempuan yang bermain bola. Kecepatan lari mereka sama seperti laki-laki berlari. Tendangan mereka sama kuatnya. Tangkapan mereka sama akuratnya. Namun, kerapian dan ketenangan mereka layak diacungi jempol. Rapi, tenang, tak banyak tingkah, itu mereka. Dan saya belajar dari orang Jepang yang bermain bola. Mental Jepang yang sudah terkenal tak kenal menyerah selalu membuat kagum. Dan saya terutama belajar dari perempuan Jepang yang bermain bola. Postur boleh kalah tinggi dan besar dari pemain-pemarin Eropa, Amerika dan Afrika, lari boleh kalah cepat, tapi tendangan mereka tetap kuat dan tangkapan mereka tetap akurat, terutama lagi: semangat mereka bisa saya bilang: gila! Mental mereka kuat, tak lelah saat gawang mereka diserang bertubi-tubi, tak habis saat pemain lawan sudah di atas angin. Keadaan pun berbalik. Usaha keras membuahkan hasil. Ketenangan membawa bukti. Mainkan saja. Konsentrasi saja. Keberuntungan pun berpihak pada mereka yang berusaha kuat dan bertahan dari serangan. Pada mereka yang tekun dan sabar.

Saya belajar lagi dari sepakbola, dari perempuan yang bermain bola, dari orang Jepang, dan dari perempuan Jepang yang bermain bola. Mereka yang masih bisa bersikap tenang tanpa eforia berlebihan saat kemenangan besar mereka genggam. Tak mengecilkan yang kalah. Kalah atau menang, pada akhirnya itu “cuma” hasil akhir, yang “hanya” terlihat dari warna medali dan digenggamnya piala. Sejatinya, kalah dan menang ada pada diri dan kebesaran hati.

*Salut pada dua tim hebat: Jepang dan Amerika yang sudah memberikan permainan yang luar biasa. Dua-duanya tim yang hebat. Aber am Ende, man braucht auch Glück, statt nur klug zu sein. Gratuliere Japan, die erste Weltmeisterin aus Asien!

Surprising Turkey #9

Kejutan 9: „Your child?!“ – Goodbye Aegean Turkey!
Yup, hari ini kembali ke Jerman. Malas tidak malas, harus kembali, hehe. Setelah memastikan urusan penjemputan dari hotel ke bandara Dalaman, sarapan pagi dengan santai, masih sempat makan siang juga, kami akhirnya “menggelandang” di Turunc, karena sudah harus check out dari hotel, sementara kami baru akan dijemput jam 17. Untung barang masih bisa dititipkan di hotel. Jalan-jalan di seputaran Turunc, saya masih sempat membeli taplak meja khas Turki untuk ibu saya. Kemudian kami duduk-duduk saja di tea garden tepi pantai, menikmati cay dan semilir angin pantai. Setelah itu jalan-jalan lagi, eh….ternyata ada penjual dondurma dekat situ. Lha kok baru ketahuan, hehe. Cuma karena kami malas menukar uang lagi dan harganya juga mahal, 12 TL (bandingkan dengan dondurma seharaga 5 TL sebelumnya). Jadi kami ngga beli deh, hehe (rada pelit, hehehe).

Jam 17 kami dijemput shuttle bus dari 1&2 fly tour. Hujan deras sekali di luar selama perjalanan dari Turunc  ke Dalaman melewati Marmaris lagi. Harus kembali ke Jerman, hehe.

Sampai bandara Dalaman, antrian di check in counter ke Düsseldorf sudah cukup panjang, tapi semua berjalan lancar. Ada kejadian lucu saat akan diperiksa imigrasi, saya mengantri di depan Lola. Saat giliran saya tiba, petugas imigrasi menyuruh saya memanggil Lola supaya ikut saja sekalian diperiksa, dia bilang, “Your child” sambil member isyarat dengan tangan menyuruh saya meminta Lola maju. Heh? You child? Lola is my child? Hahaha, hadeuuh…tampang kami ngga ada mirip-miripnya dan apa tampang saya sudah segitu tuanya sampai disangka ibunya Lola? Atau tampang Lola yang amat sangat kemudaan? Halah! Hehehe

Tak lama kami sudah berada di pesawat ke Düsseldorf. Libur telah usai. Kami kembali ke Jerman dengan perasaan puas tidak puas. Puas dengan liburannya yang menyenangkan dan banyak kejutan yang indah. Murah pula, hehe. Tidak puas, karena masih banyak yang ingin dilihat di Turki. Istanbul belum lho. Namun, itu disimpan untuk rencana jalan-jalan berikutnya deh. Masih banyak yang harus dikerjakan di depan kami.

Güle güle!

Surprising Turkey #8

Kejutan 8: Hammam: turkish bath dan dondurma!

Agak santai kami dijemput oleh mobil J&J travel untuk pergi ke Hammam, bisa sarapan dulu di tepi pantai, hehe. Yang pergi bersama kami juga sepasang suami istri asal India. Hammamnya sendiri ada di Marmaris, di sebuah hotel. Lupa namanya. Kami masuk dan berganti baju, diberi handuk lebar dan kemudian masuk ke tempat sauna. Hmm….:) Setelah dari sauna, ini dia bagian yang paling utama: mandi busa sabun. Hammam! Dari makna katanya Hammam ini sebenarnya adalah mandi uap, dikenal di daerah-daerah oriental jazirah Arab, Iran dan Turki. Biasanya yang dimandikan akan berbaring di atas marmer, kemudian disiram, disabuni dengan busa yang penuh sampai menutupi  seluruh badan dan dipeeling oleh seorang Tellak (Bademeister). Benar-benar enak deh, hehe. Setelah  selesai mandi, kemudian dilanjut dengan masker. Saya sampai tertidur saat proses masker ini, saking relaxnya tubuh. Selesai masker, mulailah massage dengan aromatherapy oil. Sayangnya, yang memijat saya tidak terlalu enak pijatannya. Atau mungkin karena saya terbiasa dipijat shiatsu yang keras, ketika dipijat biasa malah jadi terasa tidak enak. Kayak diusap-usap saja, bukannya dipijat, hehe. Tapi ngga apa-apa, proses yang lainnya sudah bikin tubuh saya relax sekali kok.

Membersihkan diri lagi dan kembali ke Marmaris dengan badan harum dan relax. Segar sekali! Memang pilihan yang tepat menempatkan hammam di akhir perjalanan, setelah capek jalan-jalan, tubuh dimanjakan dengan sauna, mandi, masker dan pijat. Surga dunia deh, hehe.

Sempat makan siang di hotel, setelah itu kami tidak ada acara lagi. Ngapain ya, di Turunc saja bosan, ya sudah kami memutuskan ke Marmaris lagi, mau beli pembatas buku tambahan dan mau mencari dondurma. Es krim khas Turki. Di Turunc belum nemu soalnya.

Nyari-nyari-nyari, keliling sana sini, sempat belanja-belanja dulu, belum ketemu juga yang menjual dondurma. Sudah pasrah aja, eeehh..tahunya kami melihat kios kecil didominasi warna pink, dengan gambar penguin lucu bertuliskan “sunshine. ice rock. dondurma” haha, yes! Nemu juga. Tapi, tentu saja ini bukan dondurma tradisional melainkan dondurma yang sudah dimodifikasi dengan isi macam-macam. Yang jualannya juga anak-anak muda, yang agak heran melihat kami berdua yang heran saat si anak mulai “mengolah” dondurmanya. Jadi, dondurma yang berarti: freezing itu adalah es krim khas daerah Aegean yang terbuat dari krim dicampur salep yang terbuat dari bunga anggrek dan chewing gum. Es krim ini bisa ditarik-tarik, dipenyet-penyet, dibolak-balik tanpa meleleh. Perlu waktu sekitar 10 detik untuk membuat es krim dari sendok mencair. Dan kami heran betul saat si anak membolak balik dan menarik-narik es, mencampurnya dengan strawberry dan kacang, dibolak balik lagi dan dimasukkan ke dalam wafel segede gaban kemudian diberi sendok. Ya, makannya harus menggunakan sendok. Masih terkagum-kagum dengan proses pembuatan dondurma tadi, kami menyendok dondurma besar seharga 5 TL itu dan rasanya….enak!! Segar dan enak deh, ngga bisa diterangkan bagaimana rasanya, harus dicoba sendiri. Pokoknya berbeda dengan es krim biasa dan gelato yang biasa saya beli di Jerman.

Puas makan dondurma, kami melanjutkan lagi acara jalan-jalan di Marmaris kemudian duduk-duduk lagi di tepi teluknya. Hari terakhir di Marmaris. Keesokan harinya kami akan kembali ke Jerman. Sore hari, kembali lagi ke Turunc. Dinner terakhir di tepi pantai, diiringi lagu „Goodbye my lover“nya James Blunt. Huaaa…males balik ke Jerman, masih ingin liburan, hehe.