„Jadi apa yang akhirnya membuatmu yakin untuk pergi?“, tanya seorang sahabat saat kami bercakap di ruang maya. Sebelumnya saya sempat berkata padanya, bahwa saya sempat sangat ragu dan takut untuk pergi kali ini. „Perasaan nyaman ada di sini,“ jawab saya.
Kontradiktif? Tentu saja. Di mana pun orang selalu mencari kenyamanan, kok saya malah ingin meninggalkannya. Sederhana saja, pengalaman saya –sangat subyektif tentu- membuktikan, bahwa semakin lama saya berada di zona nyaman, biasanya saya menjadi stagnan. Tidak berkembang. Terlalu nyaman sampai akhirnya saya „mati“. Pengalaman saya juga membuktikan, saya justru tidak merasa nyaman ketika tiba-tiba banyak orang „memperhatikan“ saya. Dan perasaan ingin „menghilang“ malah muncul semakin besar.
Aneh? Mungkin saja. Di saat banyak orang ingin diperhatikan, saya malah justru ingin tak terlihat. Pengalaman saya juga membuktikan, bahwa semakin diperhatikan, justru semakin banyak beban dan tanggung jawab yang saya dapat. Akibatnya saya malah jadi semakin sering mengeluh. Bukannya itu malah semakin menambah dosa saya?!
Masokis? Bisa juga. Di saat orang ingin bersenang-senang dan memanjakan diri dengan keserbaadaan dan keserbamudahan, saya malah ingin bersusah-susah. Memulai lagi segala sesuatunya dari awal. Mungkin juga sambil jungkir balik dan berdarah-darah. Pengalaman saya juga membuktikan, bahwa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Bersenang-senang dahulu, sayangnya –atau untungnya?- tak bisa terus-terusan senang.
Untuk saya semua adalah awal. Karena saya pun tak pernah merasa “sudah” mencapai akhir. Untuk saya ini adalah hidup. Seringnya untuk bisa semakin mensyukuri hidup yang sudah diberikan -selalu- lebih dari yang saya minta , saya justru harus berjarak dulu dari zona nyaman itu.
*Ehm, itu sih saya, bukan yang lain :) *
(mungkin) timbul karena kita jadi lebih sering memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita… :)
Hai, Dian. Bertahan di zona nyaman itu terkadang justru membuat kita tak berani mencoba hal-hal baru. Jadi, jangan ragu melangkah dan semoga sukses.
@ insan: gue kayak begitu, gitu, in? “memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita…” eh, kita ya, bukan kamu atau aku ?! hehe
@ mbak enggar: thanks, mbak :)
@dian: dian seperti apa, gue ga tahu. cuma ngasih pandangan aja dari ungkapan “semakin diperhatikan”. dari mana kita bisa tahu/yakin kalau kita - semakin - diperhatikan? (sampe akhirnya jadi beban). artinya, kita jadi korban dari pikiran kita sendiri… :P
“kita” maksudnya diri sendiri. terserah, mau diterjemahin jadi “aku”, “kalian”, “dia”, “kamu”… :)
huhu keteraturan kenyamanan ya Frau? kaya Socrates nih..
@ dita: yah, begitulah, dit :) na, wie geht’s deutschland?
Dian, go follow your heart…
zone nyaman bukan selalu hal yang tepat untuk semua orang. You do the journey and you might find the answer along the way.
@ Lasta: yup, las. Thanks :) kadang memang muncul rasa takut saat harus meninggalkan zona nyaman. tapi, kamu benar: zona nyaman bukan selalu hal yang tepat untuk semua orang. mungkin untukku tidak, hehe