Eksistensialisme
April 28, 2007 von dian
Ternyata perkuliahan Franz Magnis diundur ke minggu depan. Kuliah kemarin malam membahas tema „Eksistensialisme“. Aliran filsafat, kata Pangeran Kegelapan, yang renyah seperti kerupuk udang. Lha kok bisa renyah seperti kerupuk udang (kenapa tidak seperti emping atau kerupuk yang lainnya ya?!)? Padahal bahasan eksistensialisme menurut saya lebih banyak buramnya dibandingkan terangnya. Bagaimana tidak? Gagasan pokok dari lahirnya aliran filsafat eksistensialisme adalah hidup sebagai sebuah keterlemparan begitu saja, tanpa makna dan tujuan. Hidup yang sia-sia dan tak bermakna. Hidup sebagai upaya meraih sesuatu yang tak akan pernah tercapai.*Hiks*. Pangkal tolak pengamatan aliran filsafat ini adalah manusia individual dan subjektif. Karena dalam perspektif eksistensialis, kenyataan itu adanya tergantung pada individu yang konkret dan unik dalam ruang dan waktu. „Ketidakbahagiaan mendasar”lah yang mampu mengantarkan manusia kepada penghayatan dirinya sebagai manusia secara utuh.
Yang dilihat pun adalah hal-hal yang berkaitan dengan „impact“ bahwa pengalaman mampu menciptakan suatu eksistensi partikular dalam konteks penghayatan manusia atas hidup, sehingga makna hidup itu menjadi amat spesifik dan unik. Terminologi kunci dalam filsafat ini adalah individual-self sebagai diri yang sadar, aku yang berpikir, yang serentak melibatkan kepercayaan, harapan-harapan, ketakutan, keinginan, kebutuhan untuk menemukan sebuah tujuan, serta kehendak yang bisa menentukan tindakan-tindakannya. Individu dalam konteks ini adalah individu yang setiap saat harus membuat keputusan dan menjatuhkan pilihan-pilihan serta bertanggung jawab atasnya.
Bermula dari reaksi terhadap esensialisme Hegel, filsafat eksistensialisme berkembang dengan para tokohnya seperti Heidegger, Sartre, Camus, Kierkegaard, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, dll. Belum lagi menyebut nama-nama lain seperti Nietzsche dan Freud. Duh, semakin muram sepertinya. Jangan-jangan hidup itu sebenarnya memang muram, asing, penuh kecemasan dan ketakutan, terus menerus tidak merasa bahagia. Ah, masa? Tentu saja, menurut aliran ini, karena manusia dalam hidupnya senantiasa ada dalam kondisi „kecemasan“ eksistensial sebagai akibat dari beberapa kondisi manusiawi, yaitu memiliki kebebasan memilih apa yang perlu dalam hidup ini (dan ini membuat cemas –red), ketidaktahuan akan masa depan (ini juga membuat takut, -red lagi), kesadaran akan berlapisnya kemungkinan (wah, apalagi ini, -red juga), serta keterbatasan eksistensi yang didahului oleh dan akan berakhir dengan ketiadaan (waduh, -red lagi).
Namun, bukankah manusia juga diberikan kemampuan dan kebebasan untuk berkompromi dan mengharmonisasikan ketakutan serta harapan? Untuk memilih „baik“ dan „buruk“? Eh, jangan-jangan hal ini pun menakutkan dan mencemaskan juga? Tentu saja :)
Minggu depan: Franz Magnis. Beneran. Katanya… :)
“Gagasan pokok dari lahirnya aliran filsafat eksistensialisme adalah hidup sebagai sebuah keterlemparan begitu saja, tanpa makna dan tujuan.” Dih, serasa gue banget. OTOH, Camus mempertanyakan: tidakkah Sisifius bahagia? Dan dengan demikian hidup menurut existentialism pun jadi bermakna. Bahkan indah.
Memang iya. Jangan-jangan maknanya di situ. Ada keindahan dari setiap tindakan. Pun yang tak bermakna. Dih :)
[...] Tentang eksistensialisme baca juga ulasan Dian Anekawati di sini. [...]
Uji pengetahuan anda tentang Marx, dengan menjawab pertanyaan yang tercantum di http://meontology.blogdrive.com , dan jawaban terbaik akan mendapatkan hadiah menarik…..
Pernahkah Mbak, Dian… menemui titik absurd dlam hidup ini. Bukankah hidup ini absurd? Sayangnya, asurditas itu pun katanya karus dinikmati? Wah, gimana ini ya.
sering tuh. dan sedang :) tapi, kalau ngga absurd, bukan hidup namanya :)
Absurditas & eksistensialisme, bayi dan bapaknya. Cara barat menerjemahkan konsep “manjing ing jroning kahanan”. Selintas mirip keadaan ketika Sartre mengkritisi Descartes. Bedanya, ketika barat mendambakan tujuan & makna dalam hidup, Jawa (mungkin juga Bali dan Sunda) justru membiarkan hidup ini kosong sembari mengisinya dengan harmonisasi yang penuh dengan nuansa dekoratif. Dalam sikap, tindak tanduk & seni tradisional. Kata dalang berbobot asal Banyumas Ki Slamet Gundono “Tresna pancen angel, abote ngungkuli bumi, dhuwure ngungkuli langit” (Cinta memang sulit, beratnya melebihi berat bumi, tingginya melebihi tinggi langit).
Salam kemuraman,
HM